ASWAJA DAN WAWASAN STRATEGIS

samsulApakah ASWAJA mempunyai wawasan strategis?

Apa yang dimaksud dengan wawasan strategis?

Bagaimana tesk-teks agama memahami atau memberikan landasan pentingnya wawasan strategisn ini?
Wawasan strategis apa saja yang bisa dikembangkan dari ASWAJA?

Wawasan strategis adalah sebuah pandangan dan wawasan yang berangkat dari nilai-nilai, landasan filosofis dan kerangka berfikir stategis (jauh kedepan). Landasan filosofis adalah suatu konsepsi dasar yang bisa berangkat dari ajaran agama, kondisi situasi lingkungan yang mengitarinya maupun hasil penelahan dan dan pembacaan terhadap suatu realitas. Nilai-nilai adalah seperangkat norma-norma atau nilai yang merupakan bentuk dari landasan filosofis. Kerangka berfikir strategis adalah kerangka berfikir yang dalam praksisnya telah dipikirkan dari A sampai Z, dari mulai teoritis praksis sampai implikasi, sehingga segala kemungkinan yang terjadi akibat munculnya kebijakan tersebut bisa dihadapi dan dijawab.

Ahlussnunnah Waljama’ah (ASWAJA) yang sudah muncul semenjak adanya huru hara politik pada masa kekhalifahan Islam, lalu berkembang ketika terjadinya perdebatan ilmu kalam dan filsafat dan menjadi sistematis ketika masuk dalam organisasi Nahdlatul Ulama sudah mempunyai seperangkat nilai-nilai, norma-norma dan landasan-landasan yamg bisa dikembangkan untuk kehidupan masa kini, dan itu adalah tugas kita semuanya agar sekiranya aswaja tetap menjadi konsteksual.

Persoalan yang muncul hari ini adalajh persoalan perang ideology dan pemikiran, dimana serbuan ideology-ideologi impor begitu kencangnya dan menerobos dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia.Serbuan pemikiran dan ideology tersebut sama bahayanya dan dapat mengoyak-oyak sendi kehidupan bangsa khususnya penghancuran secara sistematis organisasi Nahdlatul Ulama yang mempunyain basis sosial kuat dan kepemimpinan otoritatif para ulama.

Tantangan- tantangan tersebut antara lain:

a) Munculnya ideology – ideology Islam ,kelompok radikal, dan kelompok islam politik, seperti :Front Pembela Islam(FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ikhwanul Muslimin (IM), Kelompok Pesrsiapan Penegak Syariat Islam (KPPSI) yang muncul dibeberapa daerah dan menuntut diberlakukanya perda-perda Islam

b) Munculnya isu-isu pro pasar dan mendukung sepenuhnya proses penyebaran I liberalisme di Indonesia, demokrasi,pluralisme, multikulturalisme, gender dan lain-lain

c) Munculnya aliran-aliran sempalan Islam seperti aliran Lia Eden, Ahmadiyah, Islam Jemaah, LDII, AL-Qiyadah al Islamiyah dan lain-lain

Kemunculan berbagai ideology dan pemikiran ini harus segera dijawab tetapi bukan dengan reaksioner melainkan dengan cara membumikan ajaran aswaja menjad aplikatif, tranformatif, dan berpihak kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan.

Berbagai terobosan sudah dilakukan oleh kalangan kaum muda NU dengn menciptakan wacana – wacana tandingan seperti; menyusun gerakan Islam Emansipatoris oleh teman-teman dari Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), membuat Islam “Post Tradisional” atau lebih popular disebut “Islam Prostra” semuanya kandas ditengah jalan. Yang asalnya menjadi wacana alternative sekaligus tandingan dari Islam Liberalnya JIL tetapi justru saat ini JIL masih yang leading, mereka menawarkan secara terus menerus gagasan-gagasan segar meskipun disana sini banyak mendapat kritik dan reaksi berbagai kelompok. Dimanakah kegagalan “Islam Prostra” dan “Islam Emansipatoris”. Kegagalan ini dapat dilihat dari beberapa hal :

  1. pada aspek bahasa, penamaan istilah “Islam Prostra” dan “Islam Emansipatoris” terasa asing dan kurang populis apalagi kalangan pesantren dan masyarakat tradisional pedesaan, berbeda dengan “Islam Liberal” meskipun untuk dit sangat kontroversi tetapi berhasil menjadi ikon pembahruan pemikiran Islam
  2. metodologi yang digunakan terlalu rumit sehingga terasa sulit untuk diterapkannya menjadi sebuah gerakan alternative
  3. sosialisasi dan transformasi gagasan tersebut masih sangat sedikit berbeda dengan Islam Liberalnya JIL yang menggunakan kampanye dan sosialisasi dengan berbagai cara tertama melalui berbagai macam publikasi baik bruapa buku, online, famblet,booklet, radio dll
  4. program-program yang dilakukan oleh kalangan pengusung Islam Postra dan Islam Emansipatoris masih terlalu LSM centris bukan sebagai isu gerakan tetapi program-program yang xebenarnya tidak menjadi kebutuhan stakeholders mereka

Oleh karena itu, dalam merumuskan tentang wawasan strategis ASWAJA, harus berangkat dari kondisi – kondisi rill yang terjadi pada masyarakat, problem-problem apa yang terjadi pada system ketatanegaraan kita, krisis-krisis yang sedang melanda bangsa Indonesia, problem-problem keagamaann seperti apa yang beekembang dimasysrakat dan persoalan-persoalan apa yang mereka hadapi sehari-hari. Dari semua problem-problem ini dicarikan metodologi-metodologi dari nash-nash agama yang dapat menjadi rujukan hukum untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut.

Sebagaimana yang dikembangkan oleh Kiai Sahal dalm fiqih sosialnya, bahwa reformulasi ASWAJA dan pengembangan wawasan mutlak diperlukan.

ASWAJA menurut kiai Sahal harus dikembangkan supaya tidak sempit. Sikap warga ASWAJA yang hanya mencukupkan apa yang sudah diketahui dan dipelajari dan tidak mau berdialog dengan ilmuwan dan teknokrat yang lain, jelas akan merugikan pengembangan kewawasanya. ASWAJA harus dikembangkan secara mendalam dari sudut pandang berbagai ilmu, khususnya ilmu-ilmu sosial sehingga ASWAJA bisa direintrodusi secara rasional, sistematis, dan konstektual sesuai dengan transformasi cultural yang sedang berproses.

Diperlukanya pengembangan wawasan perubahan dimasyarakat menghendaki perubahan wawasan. Perubahan ini menjadi amat penting karena sangat mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku yang dapat menumbuhkan kemauan, kepekaan dan ketrampilan melihat masalah, bahkan akhirnya merumuskan pemecahaan masalah. Perubahan wawasan inipun makin berarti jika ditopang dengan penguasaan Islam secara mendalam.Konsekuensinya, kemampuan penguasaan ajaran Islam secara utuh sangat diperlukan. Pengembangan dinamika keilmuwan merupakan jawaban atas tantangan yang muncul akibat adanya arus globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Pengembangan dinamika keilmuwan harus mampu menjadi sasaran pemandu transformasi sosial dan sekaligus sebagai sarana konstektualisasi ajaran Islam dalam tata kehidupan masyarakat. Sebab, keilmuwan seseorang yang berkembang secara dinamis, menyebabkan pemiliknya memiliki sifat yang supel, luwes, dan visi jauh kedepan yang mampu menyesuaikandengan perubahan apapun bentuknya. Sifat keterbukaan menumbuhkan keberanian para ulama maupun intelektual untuk saling memberikan kritik konstruktif, bahakan melakukan autokritik. Autokritik adalah bagian integral dari unsure-unsur dinamika keilmuwan yang akan ditumbuhkembangkan[2].

Berbeda lagi dengan pandangan kiai Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa dengan Gus Dur dalam merumuskan pandangan –pandanganya mengenai ASWAJA , dimana sudah seharusnya ASWAJA mengembangkan formualsi-formulasi gagasannya terutama yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Ada tujuh pandngan Gus Dur yang terkait dengan dasar-dasar hukum kehidupan bermasyarakat menurut Ahlussunnh Waljama’ah:

  1. Pandangan tentang manusia dan tempatnya dalam kehidupan ASWAJA memberikan kehidupan yang tinggi pada manusia dalam tata kehidupan semesta dengan memberikan kemerdekaan untuk berkehendak (Hurriyatul Irodah), kewajiban menjujung tinggi arti kehidupan, harus memilki rah kehidupan yang benar, kehidupan harus direncanakan, agar mampu memelihara keseimbangan. Oleh karena itu diperlukanya memelihara keseimban gan individu yang sehat antara kebutuhan individu dan kebutuhan masyarakat, antara pengolahan sumber-sumber alam dan pelestarian sumber-sumber itu sendiri, dan antara kebutuhan manusiawi dan kebutuhan mahluk-mahluk lain. Demikian pula, manusia mempunyai kewajiban menyusun pola kehidupan yang memberikan ruang geak yang cukup bagi dirinya sendiri (outer & inner space) guna memungkinkan tercapainya keseimbangan diatas
  2. pandangan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, Konsep ilmu menurut ASWAJA adalah memiliki dimensi yang berbeda dari pada pengertian umum yang berlaku.
  3. pandangan ekonomis tentang pengaturan kehidupan bermasyarakat
  4. pandangan tentang hubungan individu dan masyarakat
  5. pandangan tentang tradisi dan dinamisasinya melalui pranata-pranata hokum, pendidikan, politik dn budaya
  6. pandangan tentang cara-cara pengembangan masyarakat
  7. pandangan tentang asas-asas internalisasi dan sosilisasi yang dapat dikembangkan dalam konteks doktrin formal yang diterima saat ini

Dari tujuh pandangan GusDur mengenai ASWAJA ini sangat relevan dengn kebutuhan pengembangan ASWAJA saat ini, dimana dari proses internalisasi, sosialisasi sampai pada penyemaian gagasan-gagasan dan pada akhirnya menjadikan ASWAJA sebagai system dalam bermasyarakat. Berangkat dari ini pulalah, keinginan penulis untuk membumikan ASWAJA agar lebih aplikatif, transformative dan menjadi kebanggaan muslim Indonesia. Kebanggaan ini diartikan sebgi ungkapan apresiasi muslim Indonesia agar memegang teguh prinsip-prinsip keIslaman, keIndonesiaan dan kemasyarakatannya. Dengan memegang teguh tiga pilar ini, maka peradaban Islam akan muncul dari Indonesia dan menyinari semesta negri-negri muslim lainya.. wawasn strategis ASWAJA hanya akan dibatasi pada beberapa persoalan;

  1. Bagaimana ASWAJA mampu menggerakan tradisi nusantara sehingga bukan hanya sebagai basis pertahanan bangsa melainkan mampu menjadi landasan dan pijakan agar bangsa ini menadi lebih maju dan berkembang, seperti halnya tradisi Cina dan Jepang yang menjadi maju karena mampu menggerakan tradisi warisan nenek moyangnya, bukan malah ditinggalkan seperti Turki
  2. Bagaiaman ASWAJA mampu menggerakn potensi kaum mustad’afin menjadi lebih berdaya. Meskipun secar ekonomi mereka lemah, tetapi mampu bangkit secara perlahan-lahan, selain itu menguatkan kesadaran akan hak-hak sosial-ekonomi dan politik kaum mustad’’afin sehingga mereka bisa tetap terus terjaga. Dalam hal ini juga ASWAJA landasan – landasan keagamaan sebagai rujukan hokum dan ruh bagi kebangkitan kaum mustad’afin Indonesia
  3. Melakukan pribumisasi Islam dimana Islam dimaknai sebagai nilai dan tradisi, tetapi juga Islam menggerakan tradisi-tradisi yang sudah berkembang dinusantara agar tidak menjadi penghambat atau jumud
  4. Menggerakan semangat kebangsaan dimana ASWAJA harus mempunyai kemampuan mengaplikasikan nilai-nilainya untuk merekatkan semangat kebangsaan sehingga Islam Indonesia akan menjadi penentu kemajuan dan kejayaan Indonesia

Menggerakan Tradisi Nusantara

Tradisi Islam yang berkembang di Indonesia adalah perpaduan dengan tradisi Hindu Budha yang berkembang sebelum Islam datang. Islam Indonesia yang disebarkan oleh kalangan WaliSongo menjadi tradisi sebagai sarana untuk menyebarkan Islam, dan terbukti berhasil. Perjumpaan tradisi local dengan Islam pada akhirnya membentuk sintesis kebudayaan, dimana asal kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan Hindu dan Budha, sementara Islam identik dengan keArab-an karena memang diturunkan di Arab. Sintesis kebudayaan inilah yang menyebabkan Islam Indonesia dengan tradisi local menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Islam tidak akan ada tanpa keberadaan tradisi local. Sementara tradisi juga tidak akan ada tanapa keberadaan Islam. Sintesis kebudayaan inilah yang mendorong kalang Ahlussunnah waljama’ah menjadikanya sebagai ‘Islam Indonesia’ bukan “Indonesia yang Islam”apalagi “Islam yang ke-Arab-an” . Penggabungan antara Islam dan kebudayaan lokal bukan hanya dilakukan oleh rakyat jelata, melainkan pada raja juga menikmati sinkretisme ini, seperti yang digmbarkan oleh Abdul Mu’im DZ.

Pada masa sultan Agung di Mataram memilki karya yang khas memadukan antara kalender Saka dengan kalender Hijriyah. Pada zaman kesultanan Surakarta-Yogyakarta, proses ini diteruskan oleh raja, ulama dan pujangga yang menghasiilakan berbagai kitababon, baik bidang agama maupun sastra.

Pada Diponegoro, sekitar tahun 1800-an, pesantren Tegalrejo Magelang, Pesantren Kedu, serta pesantren Tegalsari Ponorogo yang merupakan lembaga pendidikan bagi raja, ulama dan pujangga, tidak hanya mengajarkan kitab kuning seperti Ihya Ulumaddin (tasawuf), Tuhfah (Fiqih), Nasikhatul Muluk (etika politik) juga mengajarkan kitab Jawa kuno seperti babad Majapahit, Kakawin Arjuna wiwaha, dan serat Dewa Ruci. Bahkan serat Dewa Ruci yang ditulis oleh pujangga Majapahit itu menjadi kajian filsafat tasawuf dibeberapa pesantren Jawa, seperti pesantren Cabolek Kiai Mutamakin. Hal ini serupa juga terjadi diluar jawa juga menjadi kajian dibeberapa pesantren di Lombok.

Hal itu juga tidak terjadi di Jawa. Dikerajaan Aceh Darussalam ada ulalama besar, Syaikh Abdurrouf Sinkil. Beliau seorang ahli agama dan pujangga yang ahlii dalam kebudayaan local. Karena itu, ia bisa melakukan pribumisasi ajaran Islam dikerajaan Aceh zaman raja Dharma Wangsa (Sultan Iskandar Muda) 1607-1636. tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh muridnya syaikh Burhanudin Ulakan sebagai penganjur penting agma Islam di Sumatra Barat, yang berhasil memadukan antara adat dan syara’ yang disahkan dalam piagam bukti Marpalam (1650). Dipesantrenya Syaikh itu mengajarkan ilmu keIslaman murni seperti tafsir, hadist, fiqih, dan Tasawuf. Sementara diluar pesantren ia mengmbangkan tradisi local yang diisi dengan ruh Islam bersendikan madzhab Syafi’i[3]

Perumusan ‘Islam Indonesia’ didasrakan beberapa hal:

· Proses penyebaran Islam yang diwarnai dengan pelibatan kebudayaan- kebudayaan local

· Tidak relevan lagi membicarakan Negara Islam, hal ini didasarkan pada beberapa maslahat dan sejarah kekhalifahan Islam, dimana pusat kekhalifahan Islam sudah berakhir pada masa Usmani di Turqi.

· Islam dalah seperangkat nilai-nilai dan norma–norma yang bersifat universal, dimana mengutamakan substansi ajaran lebih baik dari pada tektualitas ajaran.

Ketiga rumusan Islam ‘Islam Indonesia’ ini menjadi modal dalam menjadikn Islam sebagai rohmatal lil’alamin, ‘menghormati dan mengasishi sesama’ meskipun berbeda latar agama.

Hasan Hanafi menjelaskan yang dimaksud dengan tradisi adalah pertama sesuatu yang ditranferesikan kepada kita, kedua sesuatu yang dipahamkan kepada kita, ketiga sesuatu yang mengarahkan perilaku kehidupan kita. Itu merupakan tiga lingkaran yang didalamnya suatu tradisi tertentu ditransformasikan menuju tradisi dinamis. Pada lingkaran pertama , tradisi mengakar kesadaran histories, pada lingkaran kedua menegakan kesadaran eidetic, dan pada lingkaran ketiga menegakan kesadaran praktis[4].

Sementara as-syatibi menjelaskan, tradisi yang berdasarkan syara’ yakni tradisi yang dibuat dalil syar’I atau dinafikanya, seperti apabila syara’ memerintahkanya, baik dalam wujud kebajikan, atau kesunatan atau melarangnya dalam wujud keharaman atau kemakruhan. Atau mengizinkan untuk melakukan meninggalkan. Tradisi yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat tapi syara’ tidak membuat ketetapan apapun, tidak melarang dan tidak menyuruh.[5]

Tradisi yang membentuk Islam Indonesia pada selanjutnya dapat menjadi hokum , tentu tidak bertentangan dengan syari’at,seperti tradisi tahlilan, yang pada awalnya tradisi Hindu,dalam kaidah Ushul fiqih disebutkan:“al-‘adah Muhakkamah”, (adapt istiadat dapat dijadikan kaidah hukum).

“AL-Muhafadzah ‘ala al –qadimis solleh wa al akhdzu bi al jadidi al-aslah”(menjaga nilai-nilai tradisi lama yang baik, dan mengambil nilai-nilai tradisi baru yang lebih baik”) NIlai-nilai dari tradisi lama bangsa Indonesia yang bisa diambil hikmahnya cukup banyak, misalnya soal kepentingan kolektif, banyaknya tradisi-tradisi yang mementingkan aspek kegotongroyongan, kolektivisme dan kesederhanaan,seperti tradisi kumpul-kumpul setelah kematian seseirang yang kemudian dirubah menjadi tradisi tahlilan, nilai yang terkandung didalamnya adalah sebagai sarana komuniksi antara warga, dimana didalamnya terdapat bermacam-macam kegiatan dari muali membaca do’a, berbagi maknanan, obrolan seputar kehidupan sehari-hari warga,dll.

Penerimaan dan penjagaan tradisi ini mendapat legitimasi kuat dari teks-teks agama, diaman agama begitu menghormati tradisi yang berlaku pada masyrakat local sampaisampai tradisi tersebut dapat diajdikan kaidah hukum.

Menggerakan Kaum Mustad’afin

Kaum mustad’afin adlah kaum lemah, kaum yang secara ekonomi miskin, dan secara politik dikebiri hk-haknya, sehingga banyak hak-hak dasarnya yang tidak diberikan oleh Negara. Seperti pelayanan kesehatan untuk mereka yang sesuai, pendidikan yang gratis, pelayanan kependudukan yang layak dan pemberian fasilitas terhadap mereka dalam hal pengembangan ekonomi sehingga lama-lama akan menjadi mandiri dan mampu mencukupi kebutuhanya sehari-hari. Hal-hal seperti ini yang terkadang lalai dan tidak dilakukan. Kebeadaan mereka trkadang dianggap musuh Negara.

Kemiskinan sendiri dalam Al Quran adalah suatu keadaan diman terdapat ketidakcukupan pangan, sandang, serta saran-sarn yang merupkan keharusan bagi kesejahteraan fifiogis manusia. Dalam kategori ilmu ekonomi, kemiskinan meliputi orang miskin yang tidak bekerja, orang miskin setengah menganggur, orang cacat dan semua orang yang mengalami persoalan dalam memenuhi kebutuhan dasar.

Dalam kaca mata agama, pengklasifikasian kelompok mustad’afin sebagi berikut:

Fakir, Miskin, Amil, Muallaf qullubuhum, Fi’al-Riqab, Gharim, Fi sabl Allah, Ibnu Sabil, Sa’il dan Mahrum juga Yatim

Diluar klasifikasi kelompok mustad’afin diatas yag dimaksdu dengan kelompok mustad’afin juga bisa dikembangkan dalam beberapa hal;

pertama:kategori kelompok orang-orang atau kelompok yang dilemahkan secara poliik, dimana haknya dikebiri tidak diberikan ruang sebagaimana diberkan kepada penduduk lainya.seperti anak-anak , cucu dan cicit dari keturunan PKI yang pada masa orde baru dikebiri hak-hak politiknya, juga kounitas-komunitas adapt yang terpinggirkan demi kelancaran pembangunan, dan kelompok – kelompok marginl(kaum miskin kota, burh, tani, nelayan, gelandangan, dn anak-anak jalanan) dimana hak poliik mereka, berupa berserikat, hak bersuara, dan hak menggugat pembangunan yang merugikan dikebiri. Dalam posisi ini, mereka adlah bagian dari kelompok mustad’afin yang dilemahkan secara structural.

Kedua, orang-orang atau kelompok yang dilemahkan secara ekonomi, dimana kita tahu bahwa sektor ekonomi Indonesia masih penuh dengan praktek pencaloan, tengkulak, black market dan pembajakan hak cipta.kesemuanya ini tentu merugikan konsumen diman pengusah – pengusaha kecil tentu aka gulung tikar menghadapi pola ekonomi seperti ini, sementara pengusaha kelas kakkap dengan modalnya bisa melakukan apasaja termasuk membuat standar ganda dalam hak cipta, diman satu sisi mendaftarkan hak ciptanya secara resmi tetapi disisi lain membajaknya. Pola ekonomi yang berkembang di Indonesia adalah pola ekonomi distribusi, dimana keuntungan dari sebuah aktivitas ekonomisesungguhnya berada ditanga para distributor bukan produsen, produsen dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit, disatu sisi mebutuhkan pasar dan marketing, disisi lain banyak cost-cost budjet yang harus dikeluarkn, mereka dalam hal ini dilemahkan oleh struktur par pengusaha swasta..

Ketiga, kelompok yang dilemahkan secara sosial budaya, mereka adalah kelompok masyarakat yang dipinggirkan dalam pergaulan sosial bahkan seringkali terjadinya pembunuhan karakter (character assassination). Pengebirian hak-hak mustad’afin dalam kategori ini adalah karena terjadinya perbedaan pandangan, kesenjangan ekonomi, maupun strata sosial yang berbeda.

Ketiga kelompok mustad’afin ini harus dibela hak-haknya agar merek menjadi bagian dari manusia pada umumnya. Kalau klasifikasi mustad’afin yang pertama, hak-hak yang harus dipenuhi adalah hak-hak dasar, yaitu pemenuhan sandang,pangan, dan papan. Sementara kelompok mustad’afin yeng kedua adalah dengan cara melakukan advokasi kebijakan(ligitasi) dan advokasi non ligitasi (pendmpingan).

Dasar dan dalil-dalil diri terhadap pembelaan kelompok mustad’afin ini adalah adanya ungkapan bahwa kemiskinan, kefkiran bisa menyebabkan orang menjadi kufuur dan bahkan berpindah agama

Selain itu bahwa pada dasarnya Negara diciptakan adlah sebagai sarana untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, oleh karena itu sudah seharusny a kebijakan Negara adalah melindungi, mengayomi, memfasilitasi, apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhn rakyat.Oleh karena itu, rakyat pada dasarnya sudah berkorban begitu besar demi tegaknya Negara Indonesia, mereka membayar ajak,melaksanakan aturan-aturan hokum Negara, dll. Dalam hal ini kaidah Ushul Fiqih menjadi sangat relevan dalam memandang kekuasaan:

“Tasharuful imam ‘ala al –ra’iyyati manuthun bi al-maslahah”,(kebijaka pemimpin kepada rakyatnya harus sesua dengan kemaslahtan /kesejahteraan rakyatnya)

Kalau kita baca dalam kitab Asybah wa al Nazhair, kaidah ini mengharuskan kepada pemimpin untuk menegakan keadilan, memprioritaskan orang/kelompok yang lebih membutuhkan baru yang membutuhkan(al-ahamm tsumma al-‘aham). Dalam konteks Indonesia, kelompok yang sangat membutuhka adalah kaum petani, nelayan, pedagang kaki lima, buruh, pengangguran, tuna netra, jompo, gelandangan, anak jalanan, orang-orang yang rumahny dibawah kolong jembatan,dipinggir sungai, dan sejenisya. Faktanya, justru mereka tidak pernah diperhatikan pemerinah. Fokus pemerintah dalh pengembangan dunia industri perdagangan. Alokasi danauntuk kaum margianal jauh dibawah standar , dibawah jauh untuk alokasi dana sector industri –teknologi. Akhirnya Indonesia menjadi Negara terbelakang , tertindas dan mundur, karena mayoritas rakyat sengsara dan menderita terlantrkan, minoritas rakyat yang maju justru difasilitasi secaramelimpah dan merajalela (baca dalam Jalaluddin al –Suyuthi,Asybah wa al Nadhair, t.t. hlm.83-84)

Oleh karena itu, kerja-kerja pembelaan terhadap kaum mustad’afin harus dilakukan denan cerat, sabar , konsisten, komitmen dan penuh tanggung jawab. Dan perbuatan ini mengandung ibaah. Oleh karena itu, kerja-kerja pengentasan kemiskinan harus melalui kerja terencana, terprogram, sistematis, dan kontinyu. Kemiskinn adalah sebab akibat . Penyebab kemiskinan harus ditutup. Kalau penyebabnya tidak ada sumber pengahsilan, maka harus diberi alat untuk mendapatkan penghasilan. Memberi kail daripada ikan. Tidak cukup diberi hal-hal yng sifatnya konsumtif, hal ini membuat masyarakat menjadi pasif, boros, dan tidak punya kamauan kuat. Untuk itu perlu dimotivasi agar punya keinginan dan kemauan kuat untuk berusaha, dibimbing, diarahkan, diberi ketrampilan khusus, dan diberi modal usaha dengan perencanaan dan pengawasan kontinyu.[6]

Menggerkan Pribumisasi Islam

Pribumisasi Islam saat ini sudah menjdi idiom dan ikon sebagai representasi dari kelompok Islam tradisionalis, yang memunculkam dan mempopulerkan istilah ini adalah Gus Dur pada tahu 1980-an.Istilah pribumissi Islam ini adalah idiom, yang didalamnya memuat seperangkat nilai-nilai, nilai – nilai yang terkandung didalamnya adalah nilai-nilai yang selama ini disuarakan oleh Gus Dur, sub-kultur,demokrasi,pluralisme, keadilan, tradisi, kebangsaan, yang semuanya menjadi satu kesatun dalam nilai-nilai ke-Indonesia-an.

Pribumisasi Islam ini adalah lawan kata dari modernisasi Islam ata Islam modern, dimanakalu Islam modern cenderung ekotaan yang pada akhirny melupakan tradisi –tradisi local dan kebudayaan-kebudayaa local termasuk juga melupakan aspek historisitas Islam Indonesia. Pribumisasi Islam hadir untuk menggali danmengapresiasi tradisi agar tidak hilang dan menjadi sumber hokum Islam. Pikiran-pikran Gus Dur mengenai pribumisasi Islam terlihat jelas dalam bukunya”Islam Ku, Islam Anda, dan Islam Kita”. Pengerian dari Islam Ku “ atau Islamnya Gus Dur adalah rentetan pengalaman pribadi yang perlu diketahui orang lain, tetapi tidak dipaksakan kepada orang lain, semntara Islam Anda lebih merupakan apresiasi dan refleksi Gus Dur terhadap trdisionalisme atau ritual keagamaan yang hidup dimasyarakat. Adapun Islam kita lebih merupakan derivasi dari keprihatinan seseorng terhadap masa depan Islam yangdidasarkan pada kepentingan bersama kaum muslimin. Visi Islam kita adalah mengintegrasikan antara Islam Ku dan Islam Anda.[7]

Memang untuk memulai pemikiran pribumisasi Islam harus melihat pikiran Gus Dur secara utuh, penglamnya yang malang melintang diberbagai organisasi, pemikiranya yang mampu menembus kebekuan –kebekuan dan daya jelajah kerangka visi besarnya yang perlu dilihat. Pikiran-pikiran Gus Dur terlihat sangat jelas, dalm soal agama, kebudayaan, politik, pendidikan, ekonomi dankemaslahatan. Dalam soal hbungan gama-negara secara jelas “menolak formalisasi,ideologisasi dan syaritasisasi Islam”.[8]

Pribumissi Islam dalm konteks Ahlussunnah Waljama’ah adalah sangat relevan bahkan melanjutkan dari proyeksi ASWJA sebagai manhajul fikr. Pribumisasi Islam bukan hanya berbicara mengenai pemikiran, diskursus keagamaan, dan kebudayaan, tetapi lebih dari itu pribumisasi Islam adlah sebuah gerakan Islam Indonesia menggerakan kembali khasanah-khasanah local yang sampai sat ini berserakan.

Pribumisasi Islam sebaai upaya melakukan ‘rekonsiliasi” Islam dengan kekuatan-kekuaan budaya setempat,agar budaya local tidak hilang. Pribumisasi Islam bukan Jawanisasi bukan pula mensubordinasika Islam dengan budya local. Pribumisasi Islam hanya mempeimbgkan kebutuhan-kebutuhan local didalam merumuskan hokum-hukum agama, tanpa merubah hokum itu snediri. Juga bukanya meninggalkan norma demi budaya tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuhn dari budaya dengan mempergunakan peluang kepada Ushul Fiqih dan QaidahFiqh. Sedngkan sinkretisme adalah usaha memadukan teologi atau system kepercayaan lama, tentang sekian banyak hal yang diyakini sebagai kekuatan ghaib berikut dmensi eskatologisnya dengan Islam, yang lalu membentuk panteisme.

Dalam kontek kekinian, pribumisasi Islam dihadapkan pada tantangan Idiologi Islam dan system ekonomi pasar. Ideologi Islam sangat jelas, skarang lagi menggeliat dan mencoba menembus semua sekat-sekat modern-tradisional, dengan model semangat , ideology Islam mampu membangun barisan jama’ah hingga berbagai kota dan ketika mereka sudah besar mulai menggugat system tradisi yang sudah mapan. Sementara ekonomi paar disatu sisi juga telah menjadikan gaya hidup semakin tinggi , masyarakat menjadi semakin konsumstifdan pada akhirnya menjadi serba barat, serba modern, dan tradisi hanya akan menjadi museum yang tiak bermanfaat apa-apa.

Menggerakan Semangat Kebangsaan

Semangat kebangsaan saat ini sudah terasa memudar, dimana wawasan kebangsaan sudah tidak lagi dianggap penting, Pancasila yang merupakan dasar dan falsafah Negara sudah tidak dianggap lagi, sesuatu yang berbau barat dan modern diagungkan dan sesuatu yang bersifat tradisional, local dan keIndonesia-an ditinggalkan. Apa sesungguhnya yang menjadi problem hari ini?kenapa semangat kebangsaan kita pada akhirnya menjadi seperti ini?Kenapa bangsa pelupa akan nilai-nilai warisan leluhurnya?

Persoalan besar yang terjadi hari ini adalah persoalan kegagalan menterjemahkan dan menerapkan falsafah dan landasan kenegaraan kita. Perwajahan-perwajahan kebudayaan kita sering ditampilkan sebagai sosok tua yang tidak lagi menarik bagi kalangan generasi muda saat ini.perpolitikan kita sering ditonjolkan hanya pada sisi kekerasan dan arobat politiknya saja, ketimbang menyampaikan pesan dai percaturan politik sesungguhnya. Bukankah politik itu sebagai sarana atau alat untuk membuat kebijakn-kebijakan yang pro rakyat? Membuat produk – produk hukum untuk kepentingan nasional?Mencerdaskan kehidupan politik rakyat? Dan mengajarkan rakyat untuk selalu bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dilakukanya.

Kampanye “pilih produk dalam negri” hanya menjadi jrgon dan kampanye yang telah menghabiskn anggaran berpuluh-puluh miliar tanpa ada realisasi knkrit. Memang untuk melakukn perubahann itu tidak mudah, apalagi saat ini media merupakan alat propaganda pasar paling effektif yang telah mampu melakukan pembiusan terhadap jutaan rakyat Indonesia. Dengan melakukn pembiusan terhadap jutaa rakyat Indonesia . Dengan berbgai macam slogan, produk, hadiah dan bahkan janji-janji manis lainya telah mampu menjungkirbalikan kesadara rakyat Indonesia, kini yang berjalan hanyalah “alam bawah sadar” yang siap dituntun, diperintah untuk melakukan apapun.

Oleh karena itu, nilai-nilai luhur ke-Timur-an harus dibngkitakn kembali, nilai-nilai ke-Indonesia-an digelorakan lagi. Begitupun media massa harus bertanggung jawab terhadap setiap isi berita yang dimunculkan bukan semata-mata hanya mengejar keuntungan ekonomi tetapi lebih dari itu mendidik rakyat dengan kecerdasan media.

MENYUSUN KONSEP PERGERAKAN

Kesimpulan:

  1. Seacra histories ASWAJA adalah sebuah ‘proses’ yang lahir bukan terus ‘menjadi’tetapi terus ‘berkembang’ mengikuti zaman yang selalu berubah. ASWAJA secara histories kelahirnya terbagi dalam dua fase;sebagai sebuah ajaran dan pemikiran yang sudah lahir dari masa Rosululloh SAW, hal ini dibuktikan dengan adanya hadist nabi yang menyebut kata ‘Ahlussunnah Waljama’ah’ sebagai golongan umat yang akan selamat dari 72 golongan yang akan masuk neraka. Tetapi secara pelembagaan , ASWAJA mulai hadir pada masa munculnya perpecahan aliran –aliran ilmu kalam yang berujung pada’munculnya perumusan ilmu-ilmu fiqih’
  2. ASWAJA dalam lingkup dan tradisi NU menjadi sebuah konsep’pelembagaan ASWAJA’yang didalamnya menyangkut rumusan fiqih,aqidah dan rumusan tasawuf. Rumusan-rumusan ini membentuk’rumusan pemikiran dan gerakan’. Disebut pemikiran, karena NU dengan konsep ASWAJAnya mampu mengembangkan berbagaimetodologi hokum-hukum syari’ah yang sebelumnya tidak ada. Sementara disebut sebagai gerakan kebangsaan
  3. dalam perjalananya ASWAJA NU menjadi ruh dalam menuangkan gagasan – gagasan strategis, yang kemudian gagasan ini juga diakui, diakomodir, sebga agenda pembangunan nasional seperti:

a. Dengan adanya gagasan kemdalam menyebali ke khittah Nahdliyah 1926, NU berhasil membangun kemandirian organisasi, NU berhasil menjaga stabilitas nasional, dan NU berhasil menjadi garda terdepan dalam menyebarkan Islam rohmatal lil’alamin melalui gerakan islam dama, dan islam kebangsaan. Dengan konsep pribumisasi Islam, NU telah menghadirkan dirinya menjadi kekuatan tradisional yang progresif, transformative, kritis dan kontruktif. Dan pada akhirnya NU menjadi pelopor bagi terbentuknya Islam Indonesia dan mgenjadikanya sebagai model bagi pengembangan Islam dinegara-negara muslim lainya didunia.

b. Dengan adanya gagasan gagasan strategis, ‘Mabadi Khairo Ummmah’telah berimplikasi pada adanya penataan kembali struktur organisasi NU mulai dari tingkat ranting,sampai pengurus besar, membagun kembali pola komunikasi antara NU dengan warganya dan membangun gerakan ekonomi kerakyatan

c. Dengan adanya gagasan ‘fikrah Nahdkiyah’ NU mensistematir dirinya menjadi sebuah system yang memberikan kerangka metodologisdan solusi-solusi konkrit dalam memecahkan kebekuan dan kejumudan umat

d. Dengan adanya gagasan maslahah ummah, NU berupaya menegaskan dirinya sebagai organisasi pemberdayaan ummat dan perjuangan umat menuju umat yang sejahtera dan pelopr bagi pembangunan manusia Indonesia yang cerdas, beriman dan bertaqwa.

  1. Dalam perkembanganya ASWAJA harus mampu menjadi garda terdepan dalam menggerakan sendi-sendi kebangsaan, Semuanya demi kemaslahatan, kemajuan bangsa, dan kejayaan Islam.Dalam tataran ini ASWAJA harus memilki kemampuan untuk menyusun wawasan strategis keASWAJAanya yang meliputi;bagaimana tradisi kenusantara-an, bagaiaman menggerakan kaum mustad’afin, bagiamana menggerakan pribumisasi Islam, dan bagaimana menggerakan solidaritas keangsaan
  2. ASWAJA dituntut kemampuanya untuk merumuskan strategi-strategi konkrit,realistis, ddan visioner, dimana dalam hal ini ASWAJA mnejadi panduan, pedoman, dan pandangan msysrakat umum seperti halnya ‘Madilog-nya Tan Malaka yang mampu menyusun gerakan nasionalisme kiri atau Das Kapital-nya Karl Mark yang mampu menyusun pedoman gerakan komunis.

Aswaja Dalam Praksis Gerakan

Bagaimana membumikan ASWAJA dalam praksis gerakan?Pertanyaan ini menjadi penting untuk dijawab,agar ASWAJA selalu menjadi landasan dan pedoman dalam praksis kehidupan dalam kehidupan sehari-hari. Ahlussunnah Walajama’ah sebagaiamana telah disebutkanbukan hanya konsep teologi, melainkan juga konsep berfikir dan bergerak. Oleh karena itu, harus ada hubungan sinergis antara ajaran, landasan, sikap, pola pikiran dan tindakan sehingga menjadi satu kesatuanyang integral sebagai wujud dari pembumian ASWAJA. Dalam membumikan ASWAJA terdapat enam pola pengembangan ;landasan keagamaan, konsepsi dasar, orientasi, pola ukhuwah, panduan berpikir, dan panduan bergerak.

A. Landasan Keagamaan

1. Berpedoman pada AL-Quran, Al Hadist, Ijma’ dan Qiyas

2. Memantapkan Aqidah Ahlussunnah Waljama’ah

3. Mengembangkan kontekstualisasi dan aktualisasi fiqih

4. Menggerakan fungsi-fungsi Ushul Fiqih

B. Konsepsi Dasar

1. Apresiasi terhadap tradisi local

2. Menggelorakan semangat kebangsaan

C. Orientasii dengan Islam

1. Melakukan penilaian –penilaian masa lalu

2. Mempertahankan nilai-nilai positif masa lalu dan memurnikanya dari pengaruh dan pencampuran unsur-unsur khurafat,isroilliyat, dan nashroniyat, adat dan kebiasaan yng bertentangan dengn Islam

3. Mengembangkan masa kini

4. Menerima hal-hal baru yang bermanfaat dan sesuai dengan Islam, dan mengembangkanya sesuai dengan Islam dan menolak hal-hal baru yng tidak sesuai dengan Islam atau membahayakan Islam

5. Merintis masa depan

6. Menciptakan konsepsi-konsepsi baru yang sesuai Islam, mendorong inisiatif dan ikhtiar, dan mengembangkan azas dan haluan perjuangan tersebut, mengadakan usaha dan langkah preventif terhadap sesuatu yang bertentangan dengan Islam.

D. Pola Ukhuwah

1. Mengembangkan pola ukhuwah Islamiyah (ke-Islam-an)

2. Mengembangkan pola ukhuwah Bashoriyah(ke-manusiaan)

3. Mengembangkan pola ukhuwah Wathoniyah (ke-bangsa-an)

4. Mengembangkan pola ukhuwah Nahdliyah (ke-NU-an)

E. Panduan Berpikir

1. Mengembangkan pola piker Tawasssuthiyah (pola pikir moderat dengan tetap mengedapankan keseimbangan dan keadilan)

2. Mengembangkan pola pikir tasamuhiyah (pola pikir toleran)

3. Mengembangkan pola pikir Islahiyah (pola pikir reformatif)

4. Mengembangkan pola pikir Tahawurriyah (pola pikir dinamis)

5. Mengembangkan pola pikir manhajiyah (pola pikir metodologis)

F. Panduan bergerak

1. Mengembangkan aspek-aspek masalah

2. Melakukan advokasi kebijakan, meminimalisir bahaya, menghindari kerusakan, melakukan gereakan preventif, menjadi kader pelopor, mewujudkan multi efeec masalahat

3. Melakukan pembelaan terhadap kaum mustad’afin

4. Melakukan pembelaan terhadap kelompok/perorangan yang dile mahkan dan ditindas secara struktur, budaya, ekonomi dan poliik serta mempeberdayakan, kelompok, fakir,’amil,muallaf kulubuhum, riqab, gharim, fi sabilillah, ibnu sabil, sa’il dan mahrum, dan yatim.

img_07181



[1] Cuplikan Buku ASWAJA Manhajul Harakah disampaiakan pada Bedah Buku PMII Cabang Kebumen Bekerja Sama dengan NU, ANSOR, LAKPESDAM, IPNU & IPPNU Kebumen

[2] Jamal Ma’mur Asmani, “Fiqih Sosial Kiai Sahal Mahkfudz Anatara Konsep dan Implementasi “, Surabaya.Khalista,cet 1,Desember 2007.Hal 81-83

[3] Jurnal Refleksi Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan Taswirul Afkar.Manhajul Fikr NU;Sebuah Pencaria Yang Tak Tuntas (Jakarta: Lakpesdam NU, Edisi no 19 Tahun 2006)

[4] Lihat dalam Islamologi 2 dari Rasionalisme ke Empirisme, Hasan Hanafi, teremahan Miftah Faqih, LkiS.2004;5 dikutif oleh Jaml Ma’mur Asmani.Op.Cit

[5] Mukhamad Tolkhh Khasan, Ahlussunnah Waljama’ah dalam Persepsi dan Tradisi NU (Jakarta: Lanabora Press,cet IV.2006) HAL 211

[6] Jamal Ma’mur Asmani,ibid.

[7] Abdurhaman Wahid, Islam Ku,Islam Anda, Islam Kita(Jakarta:The Wahid Institute, cet. II.2006)hal xiv(kata pengantar,MSyafi’i)

[8] Landasan Gus Dur menolak ideologisasi, formalisasi, dan syariatisasi adalah sangat jelas berasal dari pengamatanya mengenai system pemerintahan pada nabi dan khulafaur rasyidin, Pertama, bahwa Islam tidak mengenal pandangan yang jelas dan pasti tentang pergantian kepemimpinan. Itu terbukti ketika Nabi Muhammmad wafat dan digantikan oleh Abu Bakar sebagai pengganti Rosululloh diakukan melalui baiat oleh para kepala suku dan wakil-wakil kelompok umat yang ada pada waktu itu. Sedagkan Abu Bakar sebelum wafat menyatkan kepada kaum mslimin , hendaknya umar bin khattab yang dangkat menggantikan posisinya. Ini berarti yang dipakai adalah system penunjukan, Sementara Umar menjelang wafataya meminta agar penggantinya ditunjuk melalui sebah dewan ahli yang terdiri dari 7 orang. Lalu dipilihlah Usman bin Affan untuk menggantikan Umar.selanjutnya Usman digantikan oleh Ali bin Abi Thalib.Pada sat itu Abu Syufyan juga menyiapkan anak cucunya untuk menggantiakan Ali. Sistem ini kelak menjadi acuan untuk menjadikan kerajaan atau maraga yang menurunkan calon-calon raja dan sultan dalam sejarah Islam.Kedua, besarnya Negara yang diidealisasikan oleh Islam, juga tak jelas ukuranya. Nabi Muhammad meninggalkan Madinah juga tanpa ada kejelasan mengenai bentuk pemerintahan kaum muslimin.

diskusi bedah buku PMII bekerjasama dengan NU, ANSOR, LAKPESDAM, IPNU dan IPPNU Kebumen / 23 januari 2009

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under Diskusi Aswaja, Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s