Muda NU Belajar Aswaja

salim-1

Oleh: Salim Wazdy

NU di Indonesia besar, karena mempunyai jumlah massa yang paling banyak diantara ormas Islam yang lain. Pengurus NU dihiasi tokoh-tokoh yang luar biasa, semuanya tokoh Nasional, bergelar Prof atau Dr, untuk daerah juga semuanya tokoh daerah tersebut, tapi dalam setiap berlomba-lomba dalam kebaikan selalu kalah, kerja-kerja tim selalu kandas. Dalam politik pun kalau berhasil adalah perorangan, dan bukan organisasinya, selalu ada konflik yang kontra produktif, dalam berbagai bidang, baik ekonomi, budaya, apalagi politik, potensi-potensi atau kehebatan orang-orang NU belum bisa menjadi kekuatan sinergis yang maksimal. Apa yang salah, siapa yang salah? Apakah kesalahan pada AD/ART, struktur organisasi, orangnya atau, kesalahan pada konsep ajaran ahlussunnah wal jama’ah. AD/ART dan struktur sudah sesuai dengan standar organisasi modern, orang yang masuk struktur semuanya orang hebat. Akhirnya sebagai kambing hitam adalah basis ajaran yakni ahlussunnah wal jama’ah (aswaja) yang ‘diklaim’ sebagai referensi kebijakan dalam langkah organisasi.

bedah-buku

Berbagai persoalan mendasar yang melingkupi NU membutuhkan refleksi kritis di kalangan muda NU sehingga NU ke depan menjadi lebih sinergis dalam berbagai pergerakannya. Buku Adien Jauharudin yang berjudul Ahlussunnah wal Jama’ah Manhajul Harakah tampaknya meberikan jawaban kritis yang dapat menjadi referensi NU dalam membangun sinergisitas pergerakan.

Aswaja pada awal sejarah (Adin Jauharudin; 2008: 94) dipandang sebagai madzhab yaitu sebagai aliran asy’ariyah dalam teologi dan menganut madzhab empat dalam fiqh. Seperangkat aturan dan norma yang ada dalam asyariah dan empat madzhab tersebut dijadikan referensi terutama ubudiyah dan cara pandang tata kehidupan warga NU. Kemudian terjadi perubahan cara pandang tentang ahlussunnah wal jam’ah dari aswaja sebagai madzhab menjadi sebagai manhajul fikr, dimana tata aturan nilai yang terkandung dalam teologi asya’ariah dan fiqih madzhab empat, pola pikirnya dijadikan acuan untuk mensikapi perubahan tata nilai yang terus berubah sebagai akibat dari perkembangan tata nilai modern. Pembahasan fiqh-ushul fiqh tidak lagi hanya membahas tentang ubudiyah, tetapi merambah pada ibadah-ibadah sosial. Bahtsul masail tidak hanya tentang thaharah, shalat, dll, berkembang pada kasus-kasus trafficking, kebijakan publik dll. Tokoh-tokoh aswaja sebagai manhajul fikr antara lain KH Ahmad Siddiq, Abdurrahman Wahid, KH Said Aqiel Siradj, KH Masdar Farid Mas’udi, Tolhah Hasan, dll.

Pemaknaan Aswaja sebagai manhajul fikr belum mampu menjawab problem sinergisitas gerakan NU sehingga muncul pemaknaan baru Aswaja sebagai manhajul harakah (Adin Jauharudin; 2008: 139) tata nilainya dapat menggerakkan jamaah NU lebih siap menghadapi tantangan jaman, tidak sekedar kesiapan individu, namun jamiyyahnya. Prinsip-prinsip ahlussunnah tidak sekedar menjadi landasan dalam berpikir, tetapi harus menjadi landasan pergerakan bagi warga NU. Tidak lagi pesan moral untuk membela kaum mustadhafin, tetapi advokasi nyata. Aswaja tidak lagi sekedar ranah berpikir yang terkungkung dalam tek-teks suci, tetapi harus menjadi ranah bertindak (dakwah bil hal). Ada pameo NU kaya teks miskin konteks.

Dalam konteks itulah, muda NU seharusnya tetap belajar sejarah teks aswaja kemudian secara cerdas mengkontekskan dalam realitas kehidupan. Teks aswaja tetap harus dipegang teguh, baik sebagai tradisi NU, manhajul fikr, maupun manhajul harakah dengan keberpihakan yang jelas kepada kepentingan rakyat baik aspek ekonomi, politik, maupun budaya. Kemudian mengkontekskan dalam aksi nyata advokasi pembelaan terhadap kaum mustadhafin. NU sebagai organisasi masyarakat sudah seharusnya menjadi pelopor keberdyaan rakyat. Gerakan muda yang terjebak dalam pragmatisme sesaat tanpa peduli dengan kaum mustadhafin atau demi kepentingannya sendiri bisa dikatakan pengingkaran terhadap norma aswaja. Gerakan muda NU di manapun posisinya seharusnya mempunyai visi yang sama menegakkan nilai-nilai aswaja. Visi yang sama seharusnya menjadi tujuan utama untuk membangun kekuatan strategis warga NU untuk melakukan pemberdayaan masyarakat sipil.

Buku saudara Adien Jauharudin merupakan pilihan tepat untuk belajar sejarah teks aswaja bagi muda NU. Buku Adien secara lengkap mengungkap perkembangan teks aswaja sejak jaman Nabi sampai sekarang. Walaupun saudara Adien tidak bisa mengelak dari sejarah konflik umat Islam mulai paska Rasulullah SAW atau masa Khulafaurrasyidin, konflik teologi dan fiqh masa Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, Turki Utsmani, Ibu Saud, sampai berdirinya NU. Muda NU harus jeli untuk mencari hikmah perdebatan teks dan jangan mewarisi konflik. Tangan terkepal maju kemuka!

About these ads

6 Komentar

Filed under Diskusi Aswaja, Politik

6 responses to “Muda NU Belajar Aswaja

  1. salam ta’aruf, senang bisa bersilaturrahmi ke blog PCNU Kebumen ini. Saya pernah sholat dhuhur di Islamic Center Kebumen, lalu mampir ke Masjid Agung Kebumen yg ada khzanah Falak di sana. Dan kiblat disana sudah disertfikasi, sayang beberapa masjid di Solo belum mau diajak berkblat yg benar…

    salam dari Solo

  2. saya merasa cukup bangga, dengan teman-teman muda NU di kebumen, baik itu PMII, IPNU, ANSHOR, dll. dan saya juga mengucapkan terima kasih telah di undang ke kebumen kemarin. sya melihat cukup dinamis gerakannya, dan semuanya masih berada satu payung di bawah NU. beberapa catatan mungkin yang saya bisa berikan ;
    1. NU adalah ruh, sementara anak-anak muda adalah jasadnya, jadi gerakan ke NU an dan gerakan anak-anak muda NU tidak bisa di pisahkan
    2. kalau kita perhatikan, terutama setelah membaca buku “PERGOLAKAN DI JANTUNG TRADISI ‘ maka akan terlihat, bahwa sedang terjadi perdebatan dan pergolakan yang cukup intens dan sangat menarik di lingkungan aktivis muda NU, mereka yang terbagi dalam haluan pemikiran liberal dan pos tradisional, tetapi sangat disayangkan bahwa situasi pergolakan pemikiran nampaknya masih menjadi sebuah oase pemikiran yang terserak-serak, dan satu sama lain saling menyerang. Pada posisi ini kekuatan NU muda adalah menjadi sintesis gerakan pemikiran, yang tidak masuk dalam wilayah konflik perdebatan pemikiran, tetapi melahirkan pola-pola pemikiran baru, metode pemikiran baru yang lebih visioner, membumi, kontektual dan tentunya tidak bisa di lepaskan dari kepentingan NU, masyarakat NU dan negara.
    3. Saya sendiri sedang berfikir menyusun sebuah ‘MANIFESTO AHLUSSUNNAH WAL JAMAA’. manifesto ini akan memuata beberapa hal ; VISI KEBANGSAAN, VISI POLITIK, VISI EKONOMI, VISI KEAGAMAAN. manifesto ini, akan di transformasikan untuk kader-kader PMII. kalau kelompok kiri saja, berhasil merumuskan IDEOLOGI MDH (MATREALISME DIALEKTIKA HISTORIS), kelompok kiri-nasionalis, merumuskan MADILOG, maka kita pun kaum muda NU bisa merumuskan MANIFESTO ASWAJA. saya memandang penting ASWAJA untuk di partajam, internalisasi dan ideologisasi karena ini akan mempengaruhi cara pandang dan cara gerak kita.
    4. sudah saatnya, kita juga merspon persoalan-persoalan ketatanegaraan kita. kalau kita lihat hari ini, INDONESIA DE FACTO ADALAH NEGARA LIBERAL, TINGGAL DE JURE nya aja. kita harus mulai main di ranah ADVOKASI NEGARA ; kemana arahnya AMANDEMEN UU DASAR 45 ini, bagai proses legislasi di DPR RI (karena semua produk UU yang di lahirkan pasti hasil negosiasi pasti ada kesepakatan antar erbagai kepentingan, bagaimana hubungan antar lembaga tinggi negara (terlalu banyak komisi yang pada akhirnya tidak efektif, mekanisme koordinasi antara lembaga), merebaknya pemekaran wilayah telah membawa kepada jurang disintegrasi bangsa, berlakunya PILKADA diseluruh indonesia juga telah menelan biaya demokrasi yang sangat mahal)
    5. dalam soal ideologi dan perkembangan isu-isu global, demokrasi bukan satu-satunya alat, bahkan isu pluralisme, egalitarianisme seharusnya lebih dititikberatkan pada masyarakat muslim perkotaan yang cenderung bersifat anarki, radikan. sementara untuk kaum muslim seperti NU, saya rasa istilah keadilan sosial harus mulai di kencangkan, karena masyarakat NU banyak yang menjadi buruh, petani, nelayan yang selalu terjepit oleh sistem yang tidak adil dan memihak. oleh karena itu, isu keadilan sosial menjadsi sentral; dalam penyelesaian berbagai kasus-kasus yang terjadi dikalangan warga NU. warga NU harus sejahtera, dan pada dasarnya warga NU itu moderat dan toleran.
    6. segala aktivitas kita, sudah seharusnya di publikasikan, dibumikan gagasannya dan di transformasikan. keran banyak ide-ide kita yang cukup brilian tetapi buntu dalam menterjemahkan dan menurunkan gagasan-gagasan tersebut. diperlukan publikasi dan networking, sela ini kita (NU) minim publikasi terutama PMII.

    mohon maaf, sebelumnya kang. kalau ada yang salah atas beberapa catatan saya ini.
    wassalam.

  3. pak salim, saya itu sepakat dengan mas adien dengan konsep manhajul harakah? setidaknya itu menjadi rujukan anak muda NU untuk memulai sebagai dasar gerakan. apalagi pada proses aktualisasi gerakan keranah publik yang memungkinkan utuk bertarung diwilayah sana , apabila anak muda NU khususnya dengan gerakan sosialnya menggunakan konsep awaja dengan mengedepankan nilai-nilai yang terejawantahkan pada dasar aswaja yang al adalah dan tawasut saya rasa gerakan NU kebumen akan maju dan tidak mandul. setidaknya kita lihat hari ini betapa tidak bahwa NU hanya dijadikan sebagai alat kepentingan politik dan saya yakin NU kedepan tidak sekedar itu, bisa-bisa nu sebagai organisasi untuk lega;itas politik tertentu.

  4. habibie

    as, salam silaturrahim. perkenalkan saya . Muhammad Habibie. sangat bersyukur sekali bisa membaca blog anda. mohon pandanganya bagaimana anak muda NU khususnya yang ada di kalteng kembali bersatu apakah melalui organisasi PMII, IPPNU dan sebagainya. mohon masukan dan pandangan nya. dan perlukan di agendakan pendidikan kader NU untuk mempertajam pemahaman dan pemikiran dalam ke-NUan. habibie Palangkaraya. 085248720250

  5. salim wazdy

    mulailah dengan membentuk komunitas, meminimalisir beban arogansi latar belakang organisasi sesama kultur atau struktur NU. bersatu pada dasarnya berkomunitas, pra syarat berkomunitas antara lain: rasa persamaan derajat, kecakapan, saling membutuhkan dan tidak ada yang merasa hebat, tidak ada yang merasa tinggi diantara anggota komunitas, semua anggota komunitas tentu mempunyai kelmahan dan kelebihan. kelemahan yang ada tentu dilengkapi dengan kelebihan dibidang lain. tidak ada yang merasa lebih penting diantara komunitas. perbedaan pandangan/pendapat tidk harus menjadi alat saling menghilangkan diantara komunitas. tidak ada kader yang bisa hidup sendiri, dan hebat sendiri. semua harus saling membutuhkan. ini mudah dikatakan tapi sulit dirasakan dan dilaksanakan, ma kasih. maaf hanya sekedar pandangan. kebanyakan kader atau kawan kita terlalu tinggi menilai diri sendiri dan meremehkan sahabat sendiri.

  6. www.bowobengkulu.blogspot.com

    SALAM DARI BENGKULU…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s