MENAKAR MAKNA SILATURRAHIM

Oleh: Salim Wazdy, S.Ag.,M.Pd
Terdapat beberapa varian istilah dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri antara lain, minal a’idin fal faidzin, halal bi halal dan silaturrahmi. Idul Fitri berasal dari dua kata Idul dan fitri, Idul berasal dari kata ’Id yang berarti kembali ke tempat atau ke keadaan semula. Ini berarti bahwa sesuatu itu tadinya menetap di suatu tempat atau pada suatu keadaan kemudian pergi atau pindah lalu kembali ke tempat atau keadaan semula. Keadaan semula itu adalah fitri atau fitrah, yang menurut Prof Quraish Shihab artinya asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian.

Idul Fitri dapat dipahami kembalinya seseorang kepada asal kejadiannya, yang dekat dengan Allah SWT dan mempunyai kontrak penciptaan mengabdi kepada Allah SWT. Karena asal kejadian manusia dekat dengan Allah SWT, kemudian berpindah sebab perbuatan dosa. Dosa (keadaan yang tidak suci) telah menjauhkan manusia dari Allah SWT. Idul Fitri mengembalikan seseorang yang telah berdosa atau tidak suci kembali kepada keadaan semula yang mengabdi kepada Allah SWT, atau beragama yang haq, dan terbebas dari dosa atau suci. Syarat manusia bisa kembali kepada keadaan semula yang fitrah adalah amalan zakat fitrah dan puasa ramadhan yang disabdakan Nabi memuat rahmat, maghfirah (ampunan) dan ’itqu minna an-nar (pembebasan dari siksa api neraka). Proses kembalinya seseorang bukanlah sesuatu yang mudah karena evaluasi puasa langsung dari Allah SWT.

Minal ’aidin wal faidzin, ’aidin merupakan bentuk fa’il atau perilaku dari Id, yakni subyek yang melakukan proses kembali kepada fitri. Al Faidzin adalah bentuk jamak dari kata faiz yang artinya keberuntungan. Minal ’aidin berarti harapan semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) sehingga mendapatkan al faidzin keberuntungan surga karena mendapatkan pengampunan dan dibebaskan dari siska api neraka, kembali ke tempat semula dekat dengan Allah SWT.

Halal bi halal menurut Quraish Shihab berarti ’meluruskan benang kusut’, ’melepaskan ikatan’, ’mencairkan yang beku’ atau ’menyelesaikan problem’. Aktivitas orang yang telah kembali kepada fitrah adalah menyelesaikan persoalan, meluruskan benang kusut, mencairkan yang beku, melepaskan ikatan primordial komunikasi antar sesama manusia, komunikasi manusia dengan Alam semesta dan Allah SWT.

Komunikasi antar sesama manusia menjadi kusut, banyak persoalan, pergaulan menjadi beku, dan terjebak pada ikatan promordial karena mereka mulai melupakan atau mengabaikan Allah sebagai ash shamad atau tempat bergantung dalam segala kehidupan di semesta raya. Kehidupan manusia telah bertuhan kepada material dalam varian keserakahan jabatan, harta benda egoisme kenikmatan lainnya yang tiada batasnya sehingga tata kehidupan sesama manusia dan alam rusak berantakan.

Keserakahan manusia terhadap alam sudah tidak beretika dan terbukti telah menimbulkan bencana alam dan rusaknya tata nilai bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tata nilai kehidupan kembali ke peradaban hukum rimba yang kuasa dan kuat yang menang. Nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan, keikhlasan menjadi sesuatu semakin usang dan menjadi antik. Idul Fitri merupakan saat yang tepat untuk kembali (’id) kepada asal tata nilai kehidupan yang benar, jujur, adil, ikhlas yang fitrah penciptaan manusia untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Aktivitas idul fitri berikutnya adalah silaturrahim, yang secara jelas kita dapat dapatkan dalam hadits:
َمنْ سَرٌه ان يبسط له في رز قه و ينساء فى اجله فليصل رحمه – روه البخا ر و مسلم -
Artinya: ”Siapa saja yang suka dilapangkan rizki dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah dia menyambung tali rahim

Silaturrahim berasal dari kata shilah dan rahim. Shilah berasal dari akar kata wasl yang berarti “menyambung“ dan “menghimpun“, jadi hanya yang ’putus’ dan ’bercerai’ yang dituju oleh shilah. Kata rahim, menururt kamus Al Munawwir berarti ’peranakan’ (kandungan), yang antara orang dengan orang lainnya terpisah. Kedua, rahim berarti “kasih sayang“, yang dalam Al Quran disandarkan dan disifatkan kepada Allah SWT. Sabda Nabi: Bukanlah bersilaturrahim orang yang membalas kunjungan dengan kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambungkan apa yang putus. (HR. Bukhari)
Silaturrahim adalah menyambung kasih sayang rahim-rahim antar sesama manusia yang keluar dari rahim berbeda (terputus).

Rahim bermakna universal, tidak boleh ada pembedaan (diskriminasi) dalam menyambung kasih sayang dari rahim mana yang harus disambung, semuanya harus disambung kasih sayangnya. Silaturrahim adalah jalinan kasih sayang yang tidak sektarian, tidak berkepentingan, keberadaannya lintas waktu dan tempat. Standar kasih sayang rahim adalah kemanusiaan, siapapun manusianya berhak mendapatkan kasih sayang dari manusia lain. Segala bentuk pemutusan silaturahim atau kasih sayang apalagi perlakuan tidak manusiawi terhadap sesama manusia adalah pelanggaran fitrah dan sabda Nabi SAW mengancam tidak akan masuk surga. Silaturrahim mengajarkan etika bergaul, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Realitas sosial dewasa ini silaturrahim dan halal bi halal menjadi siklus acara (upacara) tahunan pesta perayaan. Silaturrahim dan halal bi halal terjebak pada acara demi upacara dengan berbagai formalitas dan kelengkapannya yang tidak mudah dan murah.

Kepentingan politik juga bermain dalam upacara silaturrahim dan halal bi halal menajadi sangat politis sigmatisasi Islam, di mana insititusi maupun perorangan yang menyelenggarakan acara (upacara) tersebut dinilai Islami, jika tidak bisa dianggap tidak Islami. Sehingga hampir semua isntitusi pemerintahan baik formal maupun non formal menyelenggarakan acara (upacara) silaturrahim dan halal bi halal. Upacara silaturrahim dan halal bi halal diselenggarakan dari tingkat RT sampai pemerintah pusat, dalam institusi pendidikan mulai dari play group sampai perguruan tinggi, juga menyelenggarakan acara tersebut yang sudah barang tentu berkonsekuensi anggaran. Upacara silaturrahim dan halal bi halal menjadi ukuran Islami atau tidaknya sebuah institusi atau perorangan. Silaturrahim dan halal bi halal menajdi sesuatu yang mahal dan tercerabut dari akar maknanya.

Silaturrahim dan Panjang Umur
Hadits di atas mengatakan bahwa silaturrahim dan halal bi halal dapat memanjangkan umur. Persoalannya bukankah umur manusia sudah di tulis dan ditetapkan Allah SWT? Seperti firman Allah SWT surah Al Fathir ayat 11:

… dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula di kurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauhul mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.

Nabi Muhammad SAW juga bersabda bahwa setiap bayi yang lahir telah ditetapkan rizki, jodoh dan matinya. Ada tiga pendapat, pertama, menolak hadits tersebut di atas sebagai hadits dhoif sehingga tidak layak pakai sebagai dalil, apalagi matan (isinya) bertentangan dengan Al Quran, maka tertolak.

Kedua, memberi makna lain, bahwa yang dimaksud memanjangkan umurnya bukan berarti penambahan dalam arti hitungan matematik umur. Sebagaimana ketika seseorang bertambah umurnya (kesempatan hidup). Umur dikembalikan pada makna asalnya yaitu makmur yang menggambarkan kemakmuran dan kebahagiaan serta kesejahteraan rohani. Aktivitas silaturrahim mengakibatkan banyak kawan, sahabat untuk berkeluh kesah, bersuka ria, relasi bisnis, mendapat (perantara) rizki dan pertolongan jika dalam kesulitan (ora cupet pikire) sebagai gambaran kebahagiaan dan kesejahteraan.

Umur bisa juga berarti pengakuan keberadaan (eksistensi) seseorng. Orang yang telah meninggal dunia dan kita kenal, maka kita akan pernah menyebutnya. Ketika dia sebut maka dia ada, penyebutan ini menjadi wujud pengakuan keberadaan seseorang.

Pendapat ketiga, mengatakan tidak menutup kemungkinan manusia memang bisa menambah umur secara matematik. Pendapat ini salah satunya dikemukakan oleh Prof Dr Qurasih Shihab (Lentera Hati, 1995), menurut beliau kita sering keliru memahami ayat yang mengatakan: jika ajal telah datang maka usia tidak dapa ditunda dan tidak pula dipercepat (QS 7: 34). Kita memang harus yakin bahwa usia berada ditangn Tuhan, tetapi bukan berarti usaha ”memperpanjangnya” tidak akan berhasil. Kita harus yakin bahwa usaha akan berhasil jika memang direstui Allah SWT, dalam arti sesuai dengan sunnatullah. Hadits di atas sejalan dengan anjuran para dokter dan pengusaha, yaitu hindari stress dan jalin hubungan yang akrab, niscaya rizki akan datang melimpah dan hidup manjadi tenang sehingga usia dapat bertambah.

Dalam Al Quran tidak dijumpai satu kalimat pun yang dapat diterjemahkan dengan : Siapa yang diperpanjang usianya (QS 35: 37) atau : Siapa yang diperpanjang usianya (QS 35: 11). Bukankah redaksi tersebut memberi kesan bahwa manusia dapat mempunyai keterlibatan dan usaha demi panjang dan pendeknya umur? Sabda Nabi ikatkan untamu, kemudian serahkan (sisa menjaganya) kepada Allah. Mana yang benar, wallahu ’alam.

Salim Wazdy, S.Ag.,M.Pd: guru Al Quran Hadits MTsN Kebumen 1

1 Komentar

Filed under Diskusi Aswaja, Kajian, Opini, peringatan, Publik

One response to “MENAKAR MAKNA SILATURRAHIM

  1. HR Manshur Mu'thy A Khayyi

    kembali ke fitri kayanya mirip istilah kembali ke khittoh (lughatan) tetapi sekarang banyaknya yang bukan kembali tetapi pada menuju khinthah

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s