Tradisi Nyangoni Anak Yatim di Desa Singosari

logo_sm Kebumen, CyberNews. Lima bocah yang belum genap       berumur 10 tahun itu duduk tenang di teras rumah KH Thoha Sulaimi Misbah Al Hafidz, pengasuh dan pimpinan majelis taklim Masjid Darussalam, di Desa Singosari Kecamatan Ambal, Kebumen, kemarin.  Pada tiap-tiap bibir mereka tampak tersungging senyuman bahagia pada peringatan 10 Muharram desa itu.

Sementara itu ratusan warga antri berdesak-desakan di halaman Masjid Darussalam desa setempat. Sebagian lain hanya menonton di bagian halaman. Perhatian mereka tertuju pada lima bocah yang berada di teras rumah di samping masjid tersebut.

Kelima bocah itu tidak lain Candra Saputra (7), Prayoga Setia Pangestu (9), Endri (8), Puji Lestari (7), dan M Akhnanto (10) yang akan menjadi penerima santunan warga dalam tradisi Nyangoni di desa Singosari. Bocah-bocah anak itu tidak hanya berasal dari kecamatan Ambal. Namun ada yang berasal dari Kecamatan Buluspesantren.

Ya, tradisi Nyangoni biasanya dilakukan pada 10 Muharram. Yakni warga memberi santunan kepada anak-anak yatim. Tradisi nyangoni berasal dari kata jawa yang berarti memberi uang saku pada anak yang masih kecil. Namun tradisi yang biasa dilakukan oleh warga desa di kecamatan Ambal khusus diberikan kepada anak-anak yatim, atau anak yang masih untuh orang tuanya namun dalam kategori duafa.

Pada pelaksanaan, tahun ini, pemberian santunan dimulai pukul 21.00. Saking banyaknya warga yang ingin memberi uang saku, mereka harus rela mengantri untuk sekedar memberi santunan kepada kelima anak yatim itu. Sebelumnya, panitia mengumumkan agar warga mempersiapkan diri. Sebelum jam menunjukkan pukul 21.00 panitia menghitung mundur waktu dengan menggunakan pengeras suara.

Setelah waktunya tiba, warga secara bergantian nyangoni anak-anak yatim tersebut. Bacaan sholawat yang diiringi tabuhan rebana mengiringi prosesi tersebut. Satu persatu warga naik ke teras, mengelus kepala sang bocah seraya mengangsurkan uang ke baskom yang disediakan panitia. Setiap anak anak menghadapi satu baskom.

Tidak sampai satu jam, kelima baskom itu sudah penuh dengan uang pecahan dari Rp 1.000 hingga Rp 20.000. “Senang sekali, bisa untuk membantu membayar sekolah,” ujar Prayoga, salah satu anak. Setelah seluruh warga selesai memberi santunan, warga kembali duduk di halaman masjid untuk menyimak tabligh akbar. Pada peringatan yang digelar oleh majelis taklim mesjid Darussalam itu  hadir KH Badrudin Al Habib dari Depokrejo yang memberikan taushiyah.

Kyai Thoha mengatakan, santunan kepada anak yatim dan piatu itu merupakan kegiatan rutin setiap tanggal 10 Muharram sebagai bentuk kewajiban umat Islam untuk memelihara anak yatim dan piatu. Kegiatan malam itu sekaligus syukuran atas
berdirinya masjid Darussalam yang baru dibangun setahun terakhir. Selain acara santunan, kegiatan lain berupa semaan dan iktikaf di Mesjid Darussalam yang digelar sejak Selasa-Rabu malam (6-7/1).

“Dana pembangunan masjid dan perayaan 10 Muharam itu merupakan swadaya warga,” ujar Kyai Thoha didampingi pengurus Majelis Taklim Darussalam H Syangat Anshori seraya mengharapkan, dengan adanya masjid baru tersebut diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan warga setempat.

(Supriyanto /CN05)

Tinggalkan komentar

Filed under kliping

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s