Parpol Dilarang Atas namakan NU

Suara Merdeka, 13 Januari 2009

  • Warga Diserukan Gunakan Hak Pilih
SM/Surya Yuli P SILATNAS ULAMA: Gus Mus (kanan) dan Rois Syuriah NU Jateng KH Masruri Mughni mendengarkan masukan KH Nasir (Salatiga) di Silatnas Ulama NU di Ponpes Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang, kemarin. (57)

SALATIGA– Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang diikuti ratusan kiai Pulau Jawa di Ponpes Edi Mancoro Gedangan, Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, Senin (12/1), sepakat melarang parpol menggunakan institusi NU dalam politik praktis.

Selain itu, mereka menyerukan kepada pengurus NU dan warganya untuk memasyarakatkan sembilan butir pedoman berpolitik NU, di antaranya agar warga NU dalam berpolitik menggunakan hak seluas-luasnya, memegang teguh asas demokrasi, memerankan politik dengan santun dan beretika, serta memenuhi aspirasi masyarakat.

KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan, keaktifan dalam kegiatan politik jangan sampai menjadi alasan pembenar bagi pelakunya meninggalkan amalan-amalan NU, yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.

’’Kegiatan-kegitan politik praktis jangan sampai mempergunakan institusi NU dan atributnya. Hal itu bertujuan menghindari perpecahaan antarulama,’’ ujar pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin Rembang itu.

Bangun Ukhuwah

Semua pihak yang terlibat politik aktif diminta aktif membangun ukhuwah dan tetap bersatu dalam perbedaan. Selain itu, para ulama menyerukan warga NU agar tidak menghabiskan energi untuk politik praktis dan harus menghindari perilaku berlebihan.

Kesepakatan itu dicapai setelah mencermati masukan para ulama dan kiai yang hadir dalam kegiatan menjelang pelaksanaan Pemilu 2009 tersebut. ’’Kita berharap hal itu menjadi kesepakatan bersama yang harus dipatuhi semua ulama NU.’’

Sementara itu, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar mengatakan apabila warga NU tak gunakan hak suara akan mubazir. ’’Adanya keputusan Mahkamah Konstitusi dengan konsep suara terbanyak, akan semakin membuat golput semakin turun,’’ katanya.

Sesepuh NU KH Dimyati Rois juga minta warga NU berpartisipasi dalam pemilu, karena pemilu merupakan sarana mewujudkan perubahan, untuk membawa bangsa ini ke jalan terbaik di alam demokrasi. ”Para kiai juga menegaskan agar warga NU menggunakan jaringan kiai untuk memenangkan PKB,” tandasnya.

Memilih pemimpin, kata dia, adalah kewajiban setiap warga NU, sehingga tidak mungkin menyia-nyiakan sarana yang bertujuan untuk memilih pemimpin. ”Siapa yang akan memilih pemimpin NU jika bukan warga NU sendiri. Melalui PKB lah NU akan mempunyai pemimpin pilihannya,” katanya.(H2-77)

Tinggalkan komentar

Filed under kliping, Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s