Maulid Nabi “Mengenang sang Revolusioner “

salimTanggal 12 Rabiul Awwal kita selalu memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi Agung Muhammad SAW sang revolusioner sejati. Kelahiran seorang anak manusia yang membawa perubahan total tentang tata kehidupan manusia tidak hanya pada eksistensi hidup tetapi juga susbtansi hidup (kehidupan akherat). Konteks kelahiran Muhammad sebagai Nabi pada setting kehidupan yang sangat kacau, baik dari situasi social, ekonomi, politik, budaya yang berkaitan dengan eksistensi hidup dan kekacauan juga telah merampab pada situasi substansi hidup setelah mati, kehidupan religius.

Eksitensi kehidupan pada dasarnya adalah etika kemanusiaan yang mengatur bagaimana hidup dengan saling menghargai keberadaan kehidupan sesama manusia. Sedangkan susbtasni hidup adalah oreintasi kehidupan setelah mati. Setting kelahiran Muhammad dalam situasi eksistensi dan substasni kehidupan telah terjadi mismatch. Sisi etika kemanusiaan sebagai eksistensi hidup tercerabut dari akarnya. Orang rela meremahkan kehidupan manusia lain bahkan menghilangkan hidup orang lain demi kerakusan kekuasaan untuk kehidupan dirinya sendiri tanpa etika (akhlak).

Fenomena penghilangan eksistensi hidup bisa dilihat dalam persepktif ekonomi dimana yang berkuasa adalah para pemodal besar. Ekonomi dimonopoli para konglomerat dan tidak memberikan peluang bagi rakyat yang bermodal kecil untuk berdaya secara ekonomi. Terlihat dengan jelas gap garis pemisah orang miskin dengan orang kaya, bahkan orang miskin bisa menjadi barang (budak) yang diperjual belikan sebagaimana barang. Orang yang menjadi budak, eksitensi kehidupannya kemanusiannya hilang dan menjadi barang. Perilaku politik pun sama sekali tidak berpihak kepada rakyat yang lemah (mustadhafin, kekuasaan politik hanya bisa dipegang oleh mereka yang kuat secara fisik dan bukan yang benar.

Kelemahan rakyat dalam akses politik menjadikan rakyat hanyalah bulan-bulanan kebijakan untuk kepentingan penguasa (status quo). Penguasa ekonomi (pengusaha) dan penguasa politik (politisi) sering melakukan perselingkuhan untuk memperdayakan eksistensi hidup rakyat. Sosial budaya yang berkembang era kelahiran Muhammad SAW, pun menghilangkan hidup kemanusiaan perempuan, dengan menempatkan sebagai masyakat kelas II dalam masyarakat. Laki-laki boleh beristri banyak, istri juga bisa menjadi (barang) yang diwariskan, orang tua juga menjadi malu bahkan membunuhnya jika bayi yang dilahirkan adalah perempuan. Struktur social selain dipengaruhi perbedaan jenis kelamin juga dipengaruhi keturunan bangsanwan.

Perilaku (akhlak) yang menghilangkan kemanusiaan berdampak pada hilangnya orientasi substansi hidup setelah mati tempat bertemunya dengan Tuhan. Kerakusan dalam kehidupan ekonomi, politik, social budaya masyarakat menutupi orientasi keTuhanan manusia. Kekuatan ekonomi, politik, budaya social seharusnya menjadi sarana untuk mencapai Tuhannya justru menutupinya, itulah mengapa jaman tersebut dikatakan Jahiliyah (kebodohan). Kemajuan ekonomi, budaya, politik, social bahkan sains dan teknologi tidak menghantarkan manusia untuk menuju Tuhannya dikatakan sebagai Jahil atau bodoh.

Tugas utama Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan atau revolusi perilaku (akhlak) masyarakat dan terbukt sukses walaupun hanya dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Kunci kesuskesasan Muhammad melakukan revolusi atau perubahan etika kehidupan secara mengakar adalah dengan tauladan yang baik (usawah hasanah). Salim Wazdy, S.Ag.,M.Pd adalah wakil ketua Tanfidziyah PCNU Kebumen

1 Komentar

Filed under Opini, Publik

One response to “Maulid Nabi “Mengenang sang Revolusioner “

  1. Oka

    Ini merupakan artikel yang menyejukkan hati dan menggairahkan jiwa untuk melihat masa depan Indonesia yang terbebas dari akhlak tidak mulia seperti korupsi, kolusi, arogansi kekuasaan, pembalakan hutan, kriminalitas dan penindasan.
    Seorang muslim memang sudah selayaknya mentransformasikan akhlak mulia Nabi SAW dalam konteks kekinian keindonesiaan, sehingga bisa menjadi komunitas yang selalu memberi keteladanan dalam sikap-sikap mulia: membela yang lemah, menjauhi kekerasan, tidak mendewakan kekuasaan, toleran dan mengedepankan dialog dalam perbedaan, amanah bila diberi kepercayaan, demokratis dalam pengambilan keputusan.
    Selamat Berjuang Intelektual Muda….Gus Salim!!!
    Membangun Indonesia dari Kebumen
    Terus nulis yang banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s