PESANTREN, ULAMA DAN POLITIK

imga0576 Oleh ; Ali Muin Amnur

”Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah SWT di antara hamba-hamba-NYA , hanyalah ulama”,(al Fatir 28). Dalam beberapa tafsir di sebutkan ulama adalah orang orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasan Allah SWT, sehingga dengan mengetahui kebesaran dan kekuasannya dia menjadi takut kepada Allah SWT, kalau dilihat secara pendukungnya kebanyakan ilmu yang membuat orang takut dan mengakui kebesaran dan kekuasan Allah SWT banyak di dukung oleh ilmu Agama, sehingga menjadi otomatis cap ulama lebih cenderung kepada mereka yang ahli di bidang agama, dan lebih special lagi kepada mereka yang ahli fiqih, dimana fiqih adalah jalan menuju agama, paling tidak orang kalau sudah tahu jalan tidak akan kesasar, ada beberapa ulama yang ahli ilmu kealaman yang mungkin jg mereka di sebut ulama tapi setelah mendapatkan ilmu kealaman menjadi takut kepada Allah SWT dan seterusnya dia akan mencocokanya dengan ilmu agama yang secara mereka mengakui standar adalah ilmu agama.

Dalam bidang politik pun kenapa Rasul tidak memimpin langsung semua peperangan, kenapa Rasul mengangkat kholid bin walid yang notabene keagamaannya belum matang? sehingga pernah sudah diangkat lalu di ganti, karena memang kholid bin walid banyak melanggar aturan perang menurut Islam.

Tetapi secara tak tik/strategi perang dia lebih bagus. Kenapa Rasul mengangkat Muad bin Jabal waktu ke yaman ujian yang di berikan Rasul bukan soal strategi perang ? tetapi soal yang ada kaitanya dengan fiqih (ijtihad ), karena standar ulama yang sebagai pewaris nabi adalah fiqih ,sehingga tidaklah terlalu salah apabila pangkat ulama di lihat dari santdar penguasan fiqih atau ilmu agama.

Jadi kalau boleh dijadikan standar dari belbagi kisah di atas adalah ilmu agama sebagai standar keulamaan .Sehingga secara otomatis cap ulama langsung kepada yang ahli dalam bidang agama( Fiqih).

ULAMA DAN POLITIK

Ulama kal milh (”Ulama bagaikan garam”) sepertinya ini lebih tepat kalau di realitakan dalam haliyah ulama dimana cukup sedikit tetapi mewarnainya, walaupun sedikit tidak harus bondong bondong,dan mungkin karena keutamaan ilmu yang di punyai ulama tidak perlu masuk orangnya tetapi sudah bisa memberi rasa.

Kita setuju dengan wad’u sain fi mahaliha (the right man on the right place), sehingga kita akan meletakan orang yang belajar politik menjadi politisi ,orang yang belajar ilmu kedokteran menjadi dokter orang yang belajar ilmu arsitek menjadi arsitek,dan orang yang belajar agama menjadi refrensi semua ahli ilmu kalau ingin mendapatkan gelar ulama.jangan sampai kebalik balik ndak genah ,wong belajar jurmiah imriti lalu alfiyah atau belajar tajwid lalu takrib sampai fat,ul mu’in terus menjadi politisi,walaupun mungkin di tengah tengah fat,ul muin adalah pelajaran politik tetapi right man kurang afdlol.

Demikian juga yang belajar ilmu perwayangan dan ketoprak juga belajar musik jadi ulama dan kyai? ini kan ndak jelas. Tapi ini semua sudah di ramalkan oleh nabi, yang seharusnya harus kita cermati. Walaupun hadist ini menurut assyuti haditnya tingkatanya hasan ,tapi perlu kita renungkan”Al ulama umana u Rasul maa lamyukholituhu sulton walam yadhuluu dunya,faida yukholituhul sulton wayadhulu dunya fahdaruu” yang menjadi kepercayaan nabi adalah seorang ulama yang tidak ingin bercampur/selalu deket dengan sulton dan tidak banyak masuk /memikirkan dunia.

Idealnya adalah ranah politik biarlah di masuki oleh orang yang basis politiknya mampu tetapi mestinya dengan standar kebaikan politik di lihat dengan ilmu agama ( fiqih),ini sebenarnya sangat menguntungkan ulama dimana ulama betul betul berjalan deng fungsinya sebagai kontroling.( tukang jewer politisi yang agak nakal) bolehlah ulama masuk ranah politik tetapi harus di godok dulu dengan ilmu politik sehingga politik sudah pasti standar karena sebelumnya sudah ada ilmu agama (fiqihnya).dalam hal ini saya ndak sedikitpun niat untuk memojokan siapapun,bukankah kita saling ingat mengingatkan ?

Dari beberapa pengalaman kurang berhasilnya partai partai yang khususnya banyak di wakili oleh politisi yang bakc groundnya pesantren ,memang kurang matang nya beliau beliau memahami dan adaptasi dengan dunia politik ,dimana sudah terbiasa dengan sistem kehidupan pesantren sebagian besar beliau beliau ( maaf ) sangat jujur dan polos,ketika tidak suka mereka langsung katakan tidak suka,belaiu beliau ndak pernah kenal intrupsi di pesantren,sedang di dunia politik mereka harus terintrupsi sehingga ini membuat mereka enggan untuk hadir dalm sidang yang kemungkinan akan ada intrupsi,padahal di dalam sidang politik mengenal adanya voting,jelas dengan tidak rawuhnya beliau membuat kebijaksaan kadang kadang kurang menguntungkan belaiu dan rakyatnya. Mudah mudahan ada manfaatnya,amin wAllahua’lam bisawab.

1 Komentar

Filed under Diskusi Aswaja, Opini, pemikiran, Politik, Publik

One response to “PESANTREN, ULAMA DAN POLITIK

  1. kami kira karena banyaknya jabatan yang di pegang pengurus NU engga Mau regenerasi pada yang lebih mudah dan tidak fokusnya para ulama NU yang jadi pengurus dalam Nu sendiri dia ingin selalau berkuasa dengan dobeljub pengurusan ini lah warga NU tidak ada keseriusan dalam menjalakan tugas dan amat yang di berikan ,karena masih mengunakan nafsu bukan persaan dan hati tuk masa depan NU sendiri dan regenerasi yang muda ya kalo q lihat ya hanya orang itu yang di nstainu maarif lp maarif jadi pengurus NU dobel berapa tu pak gi mana Nu mau Maju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s