Penguatan Paham Ahlussunnah Wal Jamaah Umat Melalui Bedah Buku Ilusi Negara Islam

Oleh ; Borni Kurniawan

Pendahuluan

Islam di Indonesia terkenal dengan Islam yang ramah, bersahabat dan kontekstual. Kesan ini paling tidak nampak dari jejak sejarah perjuangan para wali dalam menyebarkan agama Islam di bumi Nusantara. Hasilnya yaitu sebuah kultur keberagamaan yang menjunjung tinggi kearifan lokal, dan inklusif. Sunan kali jaga, misalnya salah satu wali sanga yang tidak pernah menerapkan jalur kekerasan untuk menegakkan syariat Islam di masyarakat Jawa khususnya. Beliau juga tidak pernah mengkafirkan golongan lain (budha, hindhu) sebagai agama yang lebih dulu ada di Nusantara dan harus diperangi. Justru sebaliknya dengan penuh kearifan Islam bisa berkembang dan duduk bersanding secara baik dengan agama-agama tersebut dan agama Kristen yang datang kemudian.

Namun wajah dunia Islam di Indonesia tiba-tiba berubah menjadi garang. Kemunculan kelompok Islam berhaluan garis keras yang hampir bersamaan dengan lahirnya gerakan reformasi 98 meniupkan angin perubahan kualitas keberagamaan Islam di Indonesia. Karakter Islam Indonesia yang sejatinya toleran, inklusif dan moderat berubah menjadi otoriter. Jika dirunut geneologis perubahan citra Islam ini tidak lain karena setting kelompok-kelompok gerakan seperti pergerakan yang hendak memaksakan kultur Islam Timur Tengah (versi Wahabi) ke dalam setting geososial politik Indonesia.

Kini pertumbuhan dan perkembangan kelompok Islam garis keras pengikut Ibn’ Abdul Wahab di Indonesia kian menggemuk. Gemuknya kelompok ini memang ditopang dengan strategi dan konsep gerakan yang matang, terkosolidir dan tentu back up-an finansial (petrodollar) yang besar. Dalam pelaksanaanya, pada tataran politik kekuasaan, kelompok fundamentalis Islam di Indonesia mulai merangsek untuk mengambil alih kekuasaan. Partai Keadilan Sejahter menjadi simbol kesuksesan kelompok Islam garis keras yang hendak menformalkan syariat Islam sebagai satu-satunya landasan hukum kenegaraan Indonesia yang jelas-jelas seharusnya disandarkan pada konteks ke-Indonesia-an yang syarat dengan keragaman budaya, suku bangsa dan agama.

Pelan dan secara sistematis gerakan Islam keras di Indonesia akan berusaha merusak model ke-Islam-an Indonesia. Pemaksaan konsep Islam yang ditawarkan kelompok Islam ini jelas-jelas bertentangan dengan konteks historis dan cita-cita founding father Indonesia. Gerakan Islam yang menyimpang dengan tujuan luhur berdirinya Indonesia harus ditentang. Akan tetapi pada saat bersamaan, banyak masyarakat muslim di Indonesia belum tahu dan paham kepentingan sesungguhnya dibalik ide dan gerakan yang dibawa kelompok Islam fundamentalis tersebut. Kami berkeyakinan, ketika masyarakat muslim mengetahui secara lebih mendalam terhadap misi gerakan fundamentalisme Islam, mereka tidak akan terjebak dengan citra penegakan Syariat Islam sebagai produk isu yang selama ini menjadi trade mark kelompok Islam ini.

Kebumen adalah salah satu kabupaten di Indonesia dengan penduduk muslim terbesar. Indikator minimalnya paling tidak nampak pada keberadaan ormas Islam NU dan Muhamadiyah dengan jumlah jamaah yang besar di masing-masing ormas. Bahkan bisa disejajarkan dengan kabupaten-kabupaten lain yang mendapat predikat kota santri. Siapa sangka, Kebumen juga menjadi target dakwah kelompok Islam garis keras. jika diprosentase, sudah cukup banyak warga muslim di Kebumen yang telah direferensi sedemikian rupa menjadi anggota kelompok Islam yang bercita-cita mendirikan khilafah Islamiyah ini.

Sekali lagi, hal ini disebabkan referensi dan informasi tentang kepentingan dan agenda buruk dibalik jargon-jargon Islam yang selama ini digunakan oleh para pejuang kelompok Islam garis keras. Karenanya, kami memandang sangat urgen untuk membendung gerakan kelompok ini yang cenderung mendistorsi pemahaman Islam warga dan tercerabut dari akar budaya Indonesia. Penting pula bagi kami membawa proses pemahaman tentang Islam garis keras dalam ruang dialogis. Sehingga guliran wacana Islam garis geras ini, tidak menjadi wacana yang akan ditelan begitu saja. Sebaliknya warga akan akan menempatkan wacana Islam garis keras sebagai wacana yang perlu diketahui, untuk kemudian mendorong tumbuhnya kesadaran dan kewaspadaan agar tidak terjebak dalam rayuan politik citranya.

Petan Aksara sebagai suatu tradisi dialog inklusif yang selama ini dibudayakan Bumi Roma Institute (BRAIN) berharap menjadi jembatan bagi warga Kebumen untuk membangun tradisi memperkuat perspektif secara terbuka dan dialogis. Wacana gerakan Islam fundamentalis yang terhimpun dalam buku terbitan Wahid Institute dengan judul Ilusi Negara Islam, dalam pandangan hemat kami, merupakan wacana tepat yang harus segera dipahamkan kepada publik, supaya masyarakat mampu memahami tipuan dan ilusi gerakan kelompok Islam yang menjadikan Islam sebagai barang jualan saja.

Namun tujuan sejatinya justru ada misi politik yang mengingkari nilai-nilai Islam itu sendiri. Dalam konteks inilah, Bumi Roma Institute (BRAIN) bekerjasama dengan PCNU Kebumen, dan Wahid Institute bermaksud mengangkat tema ini sebagai tema diskusi Petan Aksara.

Sekilas tentang Petan Aksara

Ide Petan Aksara bermula dari kejenuhan insan-insan muda di Bumi Roma Institute akan minimnya tradisi diskusi, halaqah, atau debat ilmiah sebagai ruang gagas ide dan bertukar pendapat di Kebumen. Meski sekedar sebagai ruang dopok, kongkow-kongkow, berdiskusi merupakan tradisi baik yang harus lestari di masyarakat. Tradisi ini telah berjalan meski tidak rutin sejak 2008.

Karenanya kami melihat Petan Aksara merupakan tradisi baru yang coba ditawarkan kepada publik sebagai ruang bebas gagas pendapat dan berkreasi pemikiran untuk mendorong tumbuhnya habitus baru masyarakat yang demokratis, inklusif dan menghargai perbedaan tanpa dominasi. Pada konteks kegiatan kali ini, Petan Aksara mengangkat tema yang berbasis pada judul buku Ilusi Negara Islam.

Tujuan

Kegiatan Petan Aksara yang mengangkat tema buku Ilusi Negara Islam ini bertujuan untuk memperkuat perspektif paham ahli sunnah wal jamaah warga dalam konteks Indonesia. Selain itu juga mengingatkan kepada warga masyarakat muslim di Kebumen tentang gerakan Islam garis keras di Indonesia berikut bahayanya terhadap kehidupan umat beragama, dan bangsa di Indonesia.
Waktu dan Tempat
Kegiatan petan aksara ini rencananya akan diselenggarakan pada hari/tanggal Minggu, 21 Juni 2009 bertempat di Aula PC NU Kebumen. Pembukaan akan dilaksanakan pada pukul 14.00 WIB.

Peserta

Kegiatan ini akan mengikutsertakan warga nahdliyin (NU), Muhamadiyah berikut pengurusnya, aktivis gerakan sosial dan agama, mahasiswa sebanyak 75 orang.

Penutup

Demikian term of reference ini kami susun. Semoga pokok-pokok pikiran yang kami sampaikan dapat menjelaskan urgensi program Petan Aksara ini.

Tinggalkan komentar

Filed under Diskusi, Diskusi Aswaja, Politik, Publik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s