Dari Rasa Handarbeni Alumni Pesantren sampai Gerakan Transnasional

warga-Nu-kebumenOleh: Akhmad Murtajib (warga NU)

Beberapa hari lalu saya bertemu seorang teman –alumnus salah satu Pesantren di Kebumen. Sebut saja namanya Sohib. Dia baru saja berkunjung ke Pesantren X tempat dia mondok beberapa tahun lalu. Dia datang ke Pesantren X dalam rangka rapat persiapan acara silaturahim syawalan dan temu alumni.

Sebenarnya saya kurang tertarik dengan cerita mengenai silaturahim macam itu. Karena bagi saya acara macam demikian sudah menjadi hal biasa, tidak ada hal baru. Tapi Sohib terus nyerocos bercerita hingga saya merasa berkewajiban mendengarnya. Apalagi, lama-lama ceritanya menjadi menarik ketika dia ngomong, “sebenarnya saya kurang setuju dengan acara silatuahim macam itu.” Klop lah dengan pemahaman saya.

Saya mempertajam pendengaran sejak Sohib ngomong itu. Dia bercerita dari A sampai Z berkenaan dengan kekurangsetujuannya dengan model silaturahim macam demikian. Katanya, model silaturahim macam demikian tidak akan memecahkan persoalan yang dihadapi Pesantren X sekarang ini.

“Memangnya, persoalan apa yang dihadapi Pesantren X?” tanya saya.

“Sebenarnya problem klasik, kang, yakni kurangnya rasa handarbeni alumni kepada almamaternya,” jawab Sohib. Kalau kita daftar, lanjutnya, Pesantren X telah banyak melahirkan alumni yang kini tersebar di berbagai tempat, dan menggeluti dunianya masing-masing. Ada yang jadi guru, pedagang, PNS, aktivis LSM, dan sebagainya. Malah, saya juga mendengar ada yang menjadi wakil rakyat.

“Kita mesti bangga dengan mereka, terlepas dari kelemahan dan kekurangannya,” tegas Sohib bangga.

Tapi, lanjut Sohib, kita mesti jujur bahwa rata-rata mereka tidak datang ke acara silaturahim macam begini. Acara silaturahim syawalan dalam dua tahun terakhir misalnya, ada berapa sih yang hadir? Mereka banyak yang gak datang. Dari total alumni, sepertinya hanya sekitar sepuluh persen yang hadir. Ketika saya mencoba kontak mereka melalui SMS, rata-rata jawabnya: sedang sibuk, belum bisa meluangkan waktu.

“Tapi ada juga jawaban SMS yang membuat saya berfikir: mbok yao silaturahminya jangan begitu-begitu saja,” kata Sohib, sambil menunjukan SMS itu kepada saya.

“Mas Sohib,” saya potong pembicaraannya, “saya ulangi pertanyaan saya, memangnya persoalan apa sih yang dihadapi Pesantren X?”

“Sebenarnya persoalannya banyak, kang. Tapi yang menjadi diskusi selama ini adalah masalah handarbeni. Banyak alumni, apalagi yang sudah sukses, kurang mempunyai rasa handarbeni kepada almamater, Pesantren X. Jangankan untuk hal lain sebagai wujud rasa handarbenin itu, lah wong untuk datang saja di acara silaturahim yang diadakan setahun sekali mereka enggan. Acara silaturahim syawalan selalu sepi.”

Sohib juga caerita bahwa acara silaturahim yang diadakan tahun ini juga bersemangat meningkatkan rasa handarbeni itu. Teman-teman alumni merancang acara yang besar, berupa pengajian dan silaturahmi, malah sampai tiga kali besarnya dibandingkan dengan acara tahun lalu. Maksud mereka, dengan acara yang lebih besar, mereka berharap akan banyak alumni yang datang. Logikanya, dengan semakin banyak undangan ke alumni, maka kemungkinan besar yang datang akan lebih banyak lagi.

“Saya bisa memahami argumen teman-teman alumni, dan saya juga tidak keberatan” kata Sohib melanjutkan. “Tapi saya masih kurang merasa yakin dengan hasilnya akan bisa melahirkan rasa handarbeni para alumni. Malah saya kira, yang datang tak lebih dari jumlah yang datang di acara silaturahim tahun lalu. Kalau pun bertambah, ya sedikit”.

“Kalau sampeyan tidak setuju dengan acara itu, lalu usulan sampeyan apa?” saya bertanya lagi.

Sohib bercerita bahwa sudah sejak sekitar sebulan sebelum masuk Ramadlan, dia telah mengirim SMS kepada teman-teman panitia. Isi SMS berupa format acara silaturahmi, tidak hanya melulu seperti tahun lalu, pengajian. Tapi, formatnya berupa Bahsul Masail (Workshop) dengan tema yang jadi keprihatinan kita: bagaimana membangun rasa handarbeni alumni kepada almamaternya.

“Bagi saya, kang,” lanjut Sohib, “Bahsul Masail ‘bagaimana membangun rasa handarbeni alumni kepada almamater’ ini menjadi penting, karena disana kita akan tahu bayak hal tentang kondisi alumni, juga kondisi pesantren X. Selain itu, kita juga akan tahu apa dan bagaimana sebenarnya pemikiran serta harapan alumni kepada Pesantren X. Nah, dengan tahu hal itu, kita kan bisa merumuskan langkah-langkah apa saja yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan rasa handarbeni itu. Sederhana saja kok.”

“Tanggapan mereka?”

“Sudah saya katakan tadi, kang” jawab Sohib, “kebanyakan mereka menolak. Saya tidak tahu alasannya pastinya, tapi saya menangkap penolakan itu lebih karena tradisi Bahsul Masail dengan tema macam demikian belum menjadi kebiasaaan, belum menjadi tradisi. Saya yakin kalau itu sudah menjadi tradisi, maka akan menjadi hal biasa, bahkan menjadi hal yang sangat dibutuhkan.”

Gerakan Transnasional

“Kita harus jujur, kang,” kata Sohib lagi, “sebenarnya banyak persoalan yang dihadapi oleh para santri dan pada umumnya warga NU sekarang ini. Yang sering kita dengar dari berita-berita media adalah masalah gerakan Transnasional. Mereka dengan canggihnya menyusup ke banyak wilayah kehidupan warga NU. Kita juga harus jujur, bahwa semakin banyak saja anak-anak tokoh NU yang juga menjadi bagian dari mereka.”

Gerakan Transnasional ini, kata Sohib, barulah satu persoalan. Masih banyak persoalan lain yang menjadi keprihatinan kita. Sohib juga tahu dan percaya bahwa banyak teman-teman alumni yang gerah dengan adanya gerakan trannasional ini. Dalam rapat kemarin gerakan ini juga sempat menjadi salah satu tema pembicaraan. Dan rata-rata mereka berkehendak untuk terlibat dalam upaya mengerem, atau bila perlu menghapus, gerakan Transnasional ini.

Kata Sohib agak sedikit mengeluh, usulannya berkait dengan acara Bahsul Masail itu sebenarnya salah satunya menuju ke arah sana. Jadi, setelah nanti ada analisa kondisi dan kemampuan alumni, juga analisi kondisi Pesantren X, dan juga terumuskannya pemikiran dan harapan para alumni dan santri, termasuk juga kegelisahan mereka akan gerakan Transnasional, para santri dan alumni bisa merumuskan langkah-langkah untuk mencegah “sang musuh” itu.

Tapi ya begitulah kang, lanjut Sohib. Tidak selamanya usulan baik akan diterima dengan baik. Apalagi bagi yang masih mengedepankan formalitas, bukannya substansi. Padahal kalau kita mau membuka mata, telinga, dan hati, kita akan temukan banyak persoalan yang dihadapi oleh kita, alumni Pesantren X dan secara umum warga NU dimana solusi atas persoalan tersebut nampaknya menjadi sulit bila menggunakan pola-pola yang kurang menjawab persoalan dasarnya.

“Tapi,” sambung Sohib, “kita memang harus terus berupaya. Bukankah begitu, kang?”

Saya mantuk-mantuk, tanda setuju, sambil berfikir bahwa santri semacam Sohib memang sumberdaya yang mestinya diberi tempat layak untuk mengekpresikan gagasannya. Mungkin di Pesantren X dia kurang diterima, karena terlampau “maju” pemikirannya. Tapi di tempat lain, misalnya di (PC)NU santri macam X semestinya mendapat ruang.

Hanya saja, terkadang “pengurus NU” hanya melihat dengan sebelah mata, tertutup sebelah lagi, terhadap santri semacam Sohib hanya dengan alasan “kehati-hatian” yang kurang mendasar. Padahal, kata pepatah, the wordl will go on wothout you. Terjemaham bebasnya: dunia ini akan terus menggelinding walau pun kita, warga NU, tidak melakukan apa-apa.

Iya kalau menggelindingnya ke arah yang baik, kalau sebaliknya? wallahu alam..

Akhmad Murtajib
http://akhmadmurtajib.com

Tinggalkan komentar

Filed under Diskusi, Obrolan, pemikiran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s