Kiai Dulah dan Kebunnya

kebun-kampung-kiyai-dulah-warga-NU-Oleh: Akhmad Murtajib
Saya mengendarai mobil begitu kencang menuju ke timur. Sampai saya tak menyadari telah sampai di sebuah desa. Saya merasa belum pernah menuju desa ini. Terasa asing, kecuali satu plang terpampang di halaman rumah seorang warga. Terlihat jelas plang itu bertuliskan Pimpinan Ranting NU Desa Clebok –bukan nama desa sebenarnya.

Saya membelokan mobil, karena saya selalu merasa bila sebuah rumah ada gambar NU-nya adalah saudara saya. InsyaAllah akan diterima sebagai tamu –sebagai sesama warga NU. Apalagi hari itu, maghrib menjelang, siapa tahu saya akan kebagian seteguk air putih untuk membatalkan puasa bila bedug buka telah berkumandang.

Saya turun dari mobil, melihat kanan kiri. Sepi, tak seorang pun terlihat. Saya perhatikan rumah itu sebelum mengetuk dan mengucapkan salam. Tapi rumah itu juga kelihatan sepi, tak terdengar aktivitas manusia satu pun.

Saya melangkahkah kaki ke depan, mengetok pintu. Tok tok tok, assalamualaikum. Tidak ada jawaban. Saya mengulangi lagi, beberapa kali, tetap tidak ada jawaban. Saya semakin ragu, dan saya memutuskan untuk meninggalkan rumah itu.

Tapi, niatan itu saya urungkan. Saya mesti menunggu. Saya duduk, merebahkan diri di emperan rumah itu. Udara begitu segar menyiram tubuh saya, dari arah barat. Suara gemerisik pepohonan yang terkena angin begitu indah di telinga. Sampai akhirnya saya sadar tentang tanaman-tanaman dan pohon-pohon di sekeliling rumah itu.

Saya sering berkunjung ke rumah banyak teman. Ada begitu banyak rumah teman yang halamannya ditanami berbagai tanaman bunga. Dari bunga yang biasa tumbuh di pinggir jalan, yang merambat di pagar-pagar rumah, bunga yang tumbuh di pekuburan, sampai tanaman bunga yang harganya mahal-mahal. Saya sendiri tidak tahu apa nama bunga-bunga itu, dan darimana asalnya, juga mengapa bunga macam itu harganya mahal.

Saya tidak pernah bertanya itu, karena memang telah menjadi hal biasa bagi mereka yang memang senang dengan keindahan halaman. Beberapa rumah teman, malah menaruh pot di ruangan dalam, khususnya di halaman bale-bale. Terasa segar sebuah rumah yang dihalamannya ditanami begitu banyak bunga. Jujur saja, saya merasa senang berada di rumah macam itu.

Segar, asri, memberikan kedamaian.

Begitu juga dengan rumah tempat saya bersandar kini. Rumah ini begitu sejuk, segar dan damai. Tapi, ada yang membuat saya terpana. Tanaman-tanaman itu bukanlah tanaman bunga-bunga. Apalagi bunga yang mahal-mahal.

Saya lalu berdiri, mengamati tanaman dan pohon-pohon. Ada tanaman tomat, lombok, gambas, kecipir, dan banyak lagi. Pendek kata, tanaman yang tumbuh di pot-pot di rumah itu adalah tanaman palawija. Dan tanaman lainnya yang agak besar adalah pohon buah-buahan, seperti pohon mangga, jambu mete, dan lain-lain. Ada pula, pohon uwi, yang batangnya merayap ke atas mengikuti lanjaran bambu. Ada pula ganyong, irut, gembili, suweg, dan pohon lain yang saya hampir gak hapal nama-namanya.

Saya melihat ke arah barat rumah itu, tanaman jagung berderet begitu rapih. Di sebelah utaranya, ada tanaman ketela pohon. “Ah, ini sebuah kebun,” pikirku. Ya, ini sebuah kebun, tapi, kenapa kebun berada di halaman rumah? Bahkan memenuhi semua pelataran rumah? Karena selain pot-pot di bawah, ada banyak juga pot-pot yang bergelantungan di pohon. Banyak sekali. Hijau dan subur.

Assalamu’alaikum.

Tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku. Spontan saya menjawab, waalaikumsalam. Seorang berumur sekitar lima puluh tahun menghampiriku, menyalami. Saya menerima uluran tangan itu. Terasa anyes tangan seorang itu.

“Saya Dulah,” katanya memperkenalkan diri. “Orang-orang menyebut saya kiai, padahal saya hanyalah petani kebun.” Kiai Dulah tertawa.

Giliran saya berkenalan, “Saya Tajib.” Lalu saya mengenalkan diri siapa saya, mengapa sampai kemari. Perkenlan cukup singkat itu terasa hangat, karena ternyata masing-masing kami merasa saudara, sama-sama warga NU.

“Saya berharap kang Tajib bisa mengabarkan cerita ini ke warga NU lainnya,” pinta kiai Dulah, begitu saya mau pamit.

Lho, kiai Dulah memang cerita apa?

Begini.

Tadi, setelah kami berkenalan, kiai Dulah bercerita tentang kebunnya. Katanya, kebun ini adalah bagian dari gerakan warga desa itu untuk membangun keberdayaan warga NU.

Katanya, kita saat ini menghadapi dua ancaman. Pertama, kita menghadapi ancaman kerusakan lingkungan, dan kedua, kita harus jujur, banyak warga NU disini khususnya, yang sulit bangkit dari kemiskinan. Apalagi mencari pekerjaan begitu sulit.

Nah, berkebun seperti ini sebagai upaya warga NU disini untuk menghadapi dua ancaman itu sekaligus. Dengan berkebun seperti ini, kita bisa ikut menyumbang memperbaiki kerusakan lingkungan.

Dengan berkebun seperti ini pula, keluarga-keluarga di kampung ini bisa mendapatkan hasil. Hasil utama, kita tidak beli bila membutuhkan sayuran dan tetek bengeknya. Kebutuhan kita sendiri terpenuhi. Sukur, dan kita mulai merasakan, sebagian warga disini bisa menjual hasilnya di pasar. Bisa untuk menambah biaya sekolah anak-anak kami.

Saya terperangah mendengar cerita kiai Dulah itu, dan ketika saya mau pamit dia berpesan, “Saya berharap kang Tajib bisa mengabarkan cerita saya ke warga NU lainnya,” saya langsung mantuk-mantuk setuju. Karena, apa yang dilakukan kiai Dulah itu memang luar biasa, dan seyogyanya dicontoh oleh banyak orang, khususnya warga NU.

Setelah itu, tepatnya setelah ikut berbuka puasa, dan setelah berjamaah bersama kiai Dulah, saya mohon diri, melanjutkan perjalanan. Saya mengulurkan tangan, bersalaman. Anyes sekali tangan kiai Suaib, apalagi ketika kemudian rasa dingin itu mejalar ke tubuh saya….sampai saya melayang ke dunia lain, dunia yang lebih nyata.

Ternyata saya baru saja bermimpi….dari tidur tak sengaja setelah salat Asar. Sebentar lagi maghrib, sebentar lagi berbuka puasa. Syukron kasir kiai Dulah, ilmu yang kiai ajarkan, walau hanya lewat mimpi, terasa begitu berguna bagi kelangsungan kehidupan ini. Bumi memang harus kita jaga, dan ulama punya peran besar dalam upaya ini.

Kebumen, 8 September 2009.

6 Komentar

Filed under Diskusi, Lingkungan, Obrolan, pemikiran

6 responses to “Kiai Dulah dan Kebunnya

  1. Gerakan bersyukur, bagaimana memulainya jika tonggak awalnya dari mimpi ? Itu saya kira merupakan wangsit Kang Tajib, semoga sebuah hidayah untuk keberdayaan warga NU di Kebumen. Kiai desa, yang perilakunya mendekati ke perilaku wali, terjauh dari ingar bingar dukung-mendukung politik. Ini yang saya rasa akan terus didorong Kang Tajib berkembang untuk keberdayaan NU menghadapi ancaman pasar bebas. Jangan sampai warga NU makan beras dan sayuran impor kelak. Aksi nyata ? Yuk kita jalan…

  2. Cham&

    Bagaimana dg yg tdk punya lahan spt pak Dulah kang tajib, saya misalnya, padahal keinginan menanam tanaman spt itu sangat besar, apa pak Dulag mau menghibahkan sbgian tanahnya buat saya? Ato kang tajib sendiri yg mo kasih, kita kan sahabat. Oky?

  3. hasan

    Kyai Dulah dan seorang Kang Tajib yang sangat peduli dengan masalah kemiskinan dan peduli lingkungan yang kebetulan banyak dari warga NU. keduanya sama2 punya harapan besar terhadap lingkungan dan kemiskinan..aku berharap bisa terinspirasi dengan kepedulian keduanya…

  4. Ima

    andai setiap rumah punya halaman dan kebun seperti rumah kyai Dulah…

  5. MAHFUD

    Mimpi yang mencerahkan…!!! Saya kira semua setuju, dan itu harus dicoba. Semua pihak juga berkewajiban untuk menyebarkan mimpi ini dan mengamalkannya, sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri. Tidak ada yang import, tetapi semua cukup dengan memanfaatkan produk lokal, bahkan kalau bisa kita yang mengekspor. Tapi itu nanti dulu lah….Yang terpenting bagaimana saudara-saudara kita bisa berdaya….

  6. bage mana dengan yang engga punya lahan ya Nunut urip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s