Tradisi Suran dan NU

Oleh : Muhamad Siswanto

Dikalangan masyarakat Jawa, tradisi suran sangat membudaya terutama masyarakat pusat budaya jawa klasik solo dan yogyakarta, juga di pesisir utara pantai pulau jawa. Masyarakat jawa yang juga disebut kejawen sering mengadakan upacara-upacara adat, seperti pemandian benda pusaka, tradisi selamatan dan semedi. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang selalu di yakini dan dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Pada malam pergantian tahun baru Hijriyah ini banyak masyarakat yang melekan atau tidak tidur semalaman, setelah sore harinya didahului dengan selamatan dengan beberapa sajian atau sesajen seperti dekem (bagi masyarakt pantura) dan ingkung (bagi masyarakat pantai selatan). Sajian ini dibuat dari sembelihan ayam yang dibiarkan utuh tidak dipotong-potong dan diberi bumbu penyedap. Di solo ada yang membuat dengan cara dibakar, sedangkan didaerah lain ayam direbus. Sajian juga dilengkapi jajan pasar yang terdiri dari makanan ringan masyarakat jawa, yang dibeli dipasar seperti ; tape singkong, pisang goreng, getuk, lepon dan lain-lain.

Dalam ritual seoarang sesepuh akan membacakan do’a. Bagi masyarakat jawa do’a merupakan ritual yang menggunakan bahasa jawa bercampur dengan bahasa Arab yang masih bernuansa keislaman, karena memang mereka penganut agamna Islam. Sedangkan bagi mereka yang sudah mendapat pengaruh Islam kuat, dibacakan do’a yang menggunakan bahasa Arab. Sesaat setelah do’a dibacakan mereka menikmati makan bersama-sama tanpa memperhatikan peran yang dilakukan dalam ritual. Prinsip egaliter terpancar dalan tradisi suran dikalangan masyarakat bawah Jawa tanpa diliputi perbedaan status sosial.

Nahdlatul Ulama yang lahir di Jawa dan penganutnya adalah sebagian besar masyarakat Jawa, sesuai dengan tradisi da’wah walisongo membiarkan tradisi ini berkembang dengan melestarikan budaya tersebut agar menjadi bagian dari kekayaan tradisional. Masyarakat jawa dengan melaksanakan tradisi berarti melestarikan budaya leluhur dan bagian kekayaan cultural dalam paradigma multikulturalisme. Menghilangkan atau melarang tradisi ini berarti juga menafikan kekayaan budaya masyarakat. Pada akhirnya, justru melahirkan apriori dengan budaya sendiri hanya karena dibatasi oleh pandangan-pandangan yang dari sisi yang berbeda.

Akhir-akhir ini ada sebagian umat Islam yang gencar menyuarakan Islam murni/puritan. Jargonnya mengembalikan Islam pada sebagaimana yang dilaksanakan oleh nabi Muhamad SAW. Mereka mengesampingkan realitas bahwa antara doktren agama dengan budaya merupakan hal yang berbeda. Doktren agama Islam merupakan aturan / Syariat yang berasal dari Tuhan yang mengatur kehidupan manusia secara Universal. Sedangkan budaya merupakan hasil akal budi manusia yang bersifat lokal sesuai dengan tingkat perkembangan peradaban manusia. Maka doktren agama Islam mutlak milik Tuhan yang kebenaranya tidak bisa diganggu gugat ,sedangkan budaya merupakan milik manusia yang terus berkembang sesuai hasil budi manusia itu sendiri. Walaupun demikian perkembangan budaya manusia sarat pengaruh muatan doktren agama tidak dapat dipungkiri, tak terkecuali Islam.

Masyarakt Jawa dalam perkembangan budaya juga banyak dipengaruhi Ajaran Islam, termasuk tradisi Suran. Tradisi ini tidak bertentangan dengan Islam karena dalam pelaksananya tidak ada yang bertentangan sama sekali denganya. Tradisi Suran adalah bagian dari budaya manusia bukan merupakan doktren Agama. Oleh karena itu tidak diatur oleh Rasul SAW dan memang Rasul tidak mengaturnya. Demikianlah, maka bagi yang melaksanakanya tidak bertentangan dengan Ajaran Rasulullah karena Rasulullah tidak pernah melarang. Larangan Nabi hanya berkisar pada persoalan menambah doktren Agama, tidak Budaya.

NU sebagai bagian dari organisasi Islam yang moderat, tidak melarang tradisi ini. Justru Tradisi ini perlu dilestarikan karena Substansi tradisi suran mengandung muatan nilai-nilai luhur yang juga sesuai dengan ajaran Islam. Dengan melestarikan Tradisi Suaran berarti NU benar-benar organisasi yang membumi.

Moh. Siswanto, M.Pd.I, wakil sekretaris Tanfidziyah PCNU Kebumen

1 Komentar

Filed under Diskusi Aswaja, Lingkungan, Opini, pemikiran, Salam

One response to “Tradisi Suran dan NU

  1. azwar

    good news
    hidup NU dan kita dukung negara indonesia dan pancasila

    Kebumen is the best

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s