Berkurban: Menyembelih Kerakusan

Oleh: Salim Wazdy S.Ag. M.Pd

Jama’ah shalat Idul Adha, Rahimakumullah

Pada Hari Raya Idul Adha ini, marilah kita tingkatkan iman dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan cara menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-laranganNya. Sebagaimana telah dicontohkan Nabi Ibrahim AS yang telah berkurban mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara menyembelih segala kesenangan duniawi yang menghalangi dirinya untuk dekat kepada Allah SWT. Berkurban adalah Ibadah yang telah diperintahkan Allah sejak Nabi Ibrahim AS, sebagaimana dalam surat As Shaffat ayat 102-106

“Maka tatkala anak itu samapi (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, ia berkata: “Hai Anaku sesungguhnya akumelihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab:” Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapati aku orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan kami panggilkan dia: “ Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”. Sesungguhnya demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar satu ujian nyata”

Jama’ah shalat Idul Adha, Rahimakumullah

Setiap tahun kita selalau memperingati hari raya kurban, pembicaraan dan pembahasan, opini pada umumnya adalah hewan sembelihan, apakah kambing, sapi atau kerbau. Berkurban terjebak pada hal-hal teknis penyembelihan hewan, pembagian daging, siapa yang berhak, dan berapa takarannya. Para saudagar pun tidak mau ketinggalan untuk memainkan perannya dalam harga hewan kurban. Kambing, sapi atau hewan kurban lainnya yang pada hari-hari biasa murah, mendadak mahal pada bulan kurban. Berkurban menjadi bisnis dengan prinsip-prinsip ekonomi. Dinas Peternakan pun sebagai lembaga yang berwenang ikut ambil bagian, hewan tersebut sehat apa tidak.

Hal tersebut memang penting dan perlu, tetapi jika kita terjebak berkurban hanya pada persoalan-persoalan teknis penyembelihan dan pembagian daging, maka inilah yang disebut peka syari’at lupa hakikat. Karena teknis penyembilahan hewan, hanyalah makna simbolik dari kurban.

Jama’ah shalat Idul Adha, Rahimakumullah

Kata kurban itu berasal dari bahasa Arab qaraba-yuqaribu-qurbanan-qaribun, yang artinya dekat, dengan demikian berkurban pada dasarnya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Makna kurban dalam istilah Islam berarti kita berusaha menyingkirkan atau menyembelih hal-hal yang dapat menghalangi upaya mendekatkan kita pada Allah SWT. Penghalang mendekatkan itu adalah berhala dalam berbagai bentuknya, seperti ego, nafsu, cinta kekuasaan, cinta harta benda, kerakusan, dan lain-lainnya secara berlebihan.
Dalam konteks Idhul Adha, pesan mendasar dalam perintah tersebut adalah agar manusia tidak sesat dalam menjalani hidup, harus selalu menjalin kedekatan dengan Allah SWT dan merasakan kebersamaan dengan-Nya setiap saat. Karena manusia mudah sekali teperdaya oleh kenikmatan sesaat yang dijumpai dalam perjalanan hidupnya, maka Allah memberikan metode dan bimbingan selalu melihat kompas kehidupan berupa shalat dan zikir agar kapal kehidupan tidak salah arah.

Kaitannya dengan Idul Adha, pengurbanan itu simbolnya anak, yaitu Nabi Ismail AS, anak Nabi Ibrahim AS. Simbol kecintaan dunia itu antara lain pada anak, dan materi lainnya seperti mobil, rumah dan lainnya. Kalau cintanya seorang pemimpin terhadap anak berlebihan dan karenanya takut terjadi apa-apa pada anaknya atau materi lainnya, bisa menghalangi hubungannya dengan Allah SWT dan rakyatnya. Karena itulah pesan mendasar dan abadi dari Ibrahim itu, yakni sembelihlah anakmu. Artinya, sembelihlah segala ego, kerakusan, dan nafsu yang ada di hatimu, yang itu semua dapat menutupi kedekatan dan hubunganmu terhadap Allah SWT dan sesama manusia. Tetapi bila itu semua kamu lakukan, maka dapat mendekatkan kamu kepada Allah SWT dan rakyatmu.

Ketika Ibrahim akan melakukan itu godaannya berat sekali, ya dari setan, dari istri Ibrahim sendiri, dan lainnya. Meskipun, saat akan dilakukan penyembelihan itu kemudian Allah menggantinya dengan kambing. Karena Allah tahu, cukuplah dengan kambing karena engkau ya Ibrahim telah melakukan yang semestinya, yakni menyembelih ego, kerakusan, dan cinta berlebihan dalam dirimu. Inilah yang mestinya kita ambil maknanya, bahwa sekarang ini berhala-berhala duniawi luar biasa bergentayangan, yang secara tak sadar telah menjerumuskan kehidupan kita, termasuk mengantar bangsa ini kepada bencana kehancuran.


Jama’ah shalat Idul Adha, Rahimakumullah

Kita telah melihat berbagai akibat buruk dari egoisme, kerakusan (keserakahan), cinta yang berlebihan terhadap harta benda berupa bencana yang mengancam kehidupan, anatar lain bencana ekonomi, alam, sosial, kemanusia dan fisik.
Bencana alam berupa banjir bandang, tanah longsor, semburan lumpur merupakan kerakusan manusia untuk mengekploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali untuk kepentingannya sendiri atau kelompoknya.

Bencana ekonomi sebagai akibat dari keserakahan pengusaan sumber pendapatan yang berakibat pada banyaknya pengangguran, persaingan tidak sehat dan kejahatan-kejahatan ekonomi lainnya. Kerakusan terhadap harta benda antara lain dengan perekonomian yang monopoli dan oligopoli, korup, kolusi dan nepotisme sungguh telah menjadi penghalang mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan ini harus disingkirkan atau sembelih.
Bencana sosial, misalnya kecintaan yang berlebihan terhadap politik kekuasaan berdampak pada pilitik adu domba, kerusuhan, maupun kekerasan dengan sesama sehingga tatanan sosial rusak. Kerakusan terhadap kekuasaan menjauhkan dirinya dari Allah SWT, maka harus disingkirkan atau disembelih.

Jama’ah shalat Idul Adha, Rahimakumullah

Peristiwa kurban juga dalam rentetan bulan Dzulhijjah, yang di dalamnya ada perintah menunaikan ibadah haji. Ada kaitan mendasar, bahwa dalam Islam setiap perintah ada dampak sosialnya. Haji dan kurban, dampak sosialnya luar biasa besarnya. Di sinilah akan kita temukan sekaligus hikmah haji. Yakni, untuk memutuskan dari bahaya jeratan harta benda dan rutinitas kehidupan yang sangat potensial mengaburkan arah perjalanan kita, karena tanpa sadar bisa jadi kita telah menciptakan kiblat kehidupan baru. Mungkin berupa bayang-bayang jabatan politik, kemegahan hidup, popularitas, self-glory, dan berbagai bayang lainnya, sehingga terputus kedekatan kita dengan Allah SWT.

Maka, Allah memanggil kita untuk datang ke rumah-Nya. Kita tinggalkan pekerjaan, rumah, tanah air, dan berbagai urusan lainnya. Kita datang memenuhi panggilan cinta-Nya untuk memperoleh pencerahan hidup, agar tidak terlena dengan tawaran kenikmatan sesaat yang bisa menghancurkan makna dan tujuan hidup yang lebih besar nilainya dan abadi.

Karena itulah, dalam konteks ini, keseluruhan rentetan ritual haji yang sesungguhnya merupakan amalan paling berat bila ditinjau dari segi fisik, kemudian diakhiri dengan perintah berkurban. Awal kita datang haji juga semua serba telanjang. Itu menggambarkan kita menghadap Sang Khalik melalui simbol Ka’bah, itu harus dengan hati suci tanpa membawa status sosial yang ada. Di sinilah nilai-nilai kemanusiaan universal didapat. Tak kenal suku dan bangsa, semua sama.

Kurban, sebagai ritual simbolik kelanjutan pelajaran seorang Ibrahim, juga menunjukkan bahwa berbagai sandang dan status sosial sesungguhnya tak ada gunanya di mata Allah SWT. Alquran menyatakan, hanya ketakwaanlah yang diperhitungkan di sisi Allah. Maka, dengan berkurban sesungguhnya adalah untuk membunuh berbagai kerakusan atau kesrakahan, yang dapat menjadi penghalang upaya ketakwaan kepada Allah. Haji dan kurban juga sama-sama melahirkan dan menumbuhkan rasa damai dan aman, serta keduanya sama-sama membangkitkan semangat kebersamaan.

Jama’ah shalat Idul Idha Rahimakumullah

Ketika Idhul Adha ini yang dikumandangkan adalah takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar. Artinya, kita diajak menghayati bahwa hanya Allahlah yang agung, Dia yang paling besar, lainnya itu kecil. Janganlah kecintaan terhadap dunia dan seisinya itu menghalangi kita untuk menghayati keagungan Allah. Karena itulah, ketika berucap Allahu Akbar, berarti yang lain itu kecil.

Dari konteks ini, hikmah terpenting itu adalah bagaimana kita dapat meneladani seorang Ibrahim dalam memimpin dan melahirkan pemimpin-pemimpin berikutnya. Anak keturunannya itu kan para pemimpin. Bisa dibayangkan, Ismail yang begitu dicintainya kemudian ia korbankan untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Kita dituntut untuk dapat menjadi Ibrahim-Ibrahim itu di tengah kondisi social sekarang ini.

1 Komentar

Filed under Diskusi, Diskusi Aswaja, Doa, Opini, pemikiran, peringatan, Publik

One response to “Berkurban: Menyembelih Kerakusan

  1. HR Manshur Mu'thy A Khayyi

    Alhamdulillah akhirnya muncul juga , selama ini saya selalu nunggu kok tidak ada yg baru di situsnya PCNU Kebumen ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s